Pemandangan Indah di Ketinggian Kota Semarang Alam Indah Resto

Resto alam indah merupakan tempat yang pas untuk kamu dan pasangan jika ingin makan malam bersama. Pemandangan Kota Semarang dari ketinggian, udara yang sejuk, serta cahaya lampu dan lilin yang menemani akan membuat suasana makan malam kamu menjadi sangat romantis. Saking romantisnya suasana resto ini, banyak yang menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk acara pernikahan lho.

Resto alam indah beralamatkan di Jalan Setiabudi No.12
Ngesrep Banyumanik
Kota Semarang Jawa Tengah 50261
Indonesia

Berikut Foto dapat anda klik di gambar ini


Berikut Video Resto alam indah


berikut peta lokasi Alam Indah Resto Cafe





Share:

Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara



Kapalo Banda Taram yg berada di Kanagarian Taram, Harau, Payakumbuh ini menawarkan sensasi tersendiri bagi pengunjungnya. Selain keindahan alam yg udah gak perlu diraguin lagi, sensasi mengarungi sungai dengan rakit bambu bisa bikin cerita perjalnan jdi lebih seru.

Berjarak kurang lebih 11 km dari kota Payakumbuh, lokasi Kapalo Banda Taram ini ternyata searah dengan Pilubang Resort. Dari simpang Batu Balang tinggal ikutin aja jalan kearah Pilubang kurang lebih sejauh 7 km. Kondisi jalan menuju lokasi biarpun kecil tetapi sudah beraspal kok, tapi beberapa kilometer menjelang lokasi jalannya masih berupa tanah keras, hati-hati aja karena jalannya sempit.

Kapalo Banda Taram ini adalah sebuah bendungan yg tujuan utamanya untuk irigasi persawahan masyarakat sekitar. Namun ternyata ada potensi lainnya dibalik fungsi utama tersebut. Apalagi pemandangan disekitar bendungan tadi sangat memukau. Jajaran perbukitan hijau memagari pinggir sungai

Dengan tarif IDR 10K per 1 jam kalo mau ngayuh sendiri, atau kalau mau make pendayung tambahin lg sejumlah itu, kita udah bisa menikmati sensasi mengarungi sungai dengan rakit bambu.

kalau lapar dan dahaga menyerang, ada beberapa warga sekitar yg membuka usaha warung makan di lokasi, ada jg yg jualan jagung bakar. Tapi ingat ya, sampahnya jgn dibuang sembarangan, sayang tempat wisatanya bagus, tapi kotor.

Sumber: https://ombolot.wordpress.com/2014/06/16/travel-story-kapalo-banda-taram



    Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara



    Sumber Image:https://travelingyuk.com/sumatera-barat/22103/

    Bukik Bulek terletak di daerah Taram yang merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Bukik bulek ini merupakan sebuah batu besar yang di atasnya ditumbuhi oleh pepohonan.

    Bentuk bukit ini yang bulat dan mempunyai puncak yang menonjol dan juga terjal. Penamaan Bukik Bulek yang merupakan bahasa dari Minangkabau. Bukik artinya Bukit, sedangkan Bulek artinya Bulat. Oleh sebab itu lah bukit ini disebut dengan bukik bulek.

    Disekeliling bukit ini terdapat hamparan tanah dengan rerumputan yang datar. Sehingga membuat tempat wisata bukik bulek ini menjadi indah ketika dijadikan spot untuk berfoto-foto.

    Namun sangat disayangkan lokasi wisata ini kurang dikelola dengan baik, tidak adanya fasilitas yang memadai dan hanya dibiarkan begitu saja. Padahal lokasi ini dapat dikembangkan dan dijadikan sebagai aset wisata untuk daerah sekitarnya.

    Selain itu, bukit ini juga dikelilingi oleh rawa-rawa yang terdapat banyak sekali ikan didalamnya. Ketika hari libur, masyarakat sekitar sering menjadikan tempat tersebut sebagai tempat memancing.

    Untuk lokasi dari bukit ini, jika kita dari Kota Payakumbuh kira-kira berjarak sekitar 11,5 KM.

    https://www.pituluik.com/2018/07/pesona-wisata-bukik-bulek-kabupaten.html



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin

    Sejarah rumah gadang di minangkabau.

    Tentang sejarah minangkabau yang ditulis oleh bundokandung. Rumah gadang bahasa minangkabau. Tidak semua kawasan di minangkabau darek boleh didirikan rumah adat hanya di kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja rumah gadang ini boleh didirikan.

    Gaya seni bina pembinaan hiasan bahagian dalam dan luar dan fungsi rumah. Berbagai tulisan sejarah yang ditulis. Salah satu asset budaya minangkabau adalah rumah gadang.

    Asal usul rumah gadang minangkabau. Asal usul bentuk rumah gadang juga sering dihubungkan dengan kisah perjalanan nenek moyang minangkabau. Sistem pencatatan sejarah hampir tidak dikenal di minangkabau.

    Simbol budaya tersebut ialah rumah gadang yang mana pada saat ini rumah gadang sudah resmi dan juga ditetapkan emnjadi rumah adat minangkabau. Rumah gadang ini mempunyai ciri ciri yang sangat khas. Rumah gadang merupakan rumah adat minangkabau.

    Rumah besar adalah rumah adat minangkabau. Rumah gadang atau rumah godang adalah nama untuk rumah adat minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di provinsi sumatera barat indonesia. Dengan cerita di awal tadi.

    Ada dua kelarasan di minangkabau. Rumah gadang minangkabau merupakan rumah tradisional hasil kebudayaan suatu suku bangsa yang hidup di daerah bukit barisan di sepanjang pantai barat pulau sumatera.

    Lokasi dan transportasi

    Rumah Gadang ini terletak di dekat Kantor Wali Nagari Sungai Baringin dan juga Masjid Nurul Islam, tepatnya di Jalan M. Syafei, Sungai Beringin, Payakumbuh, Lima Puluh Kota. Untuk bisa mencapai tempat ini bukanlah hal yang sulit, mengingat tempatnya tidak berada jauh dari pusat kota Payakumbuh. Perjalanan ini bisa kalian tempuh menggunakan kendaraan pribadi apapun, bahkan angkot. Jika kalian memulai perjalanan dari pusat kota Payakumbuh, waktu yang kalian butuhkan selama perjalanan sekitar 15 menit. Tetapi jika kalian memulai perjalanan setelah sampai di terminal Koto Nan Ampek maka kalian membutuhkan waktu sekitar 12 menit dengan melewati jalan yang bisa kalian lihat pada peta dibawah ini.

    tiket masuk

    Untuk menikmati keindahan alam di tempat ini, menemukan banyak spot foto yang terlihat asri, atau mempelajari berbagai kebudayaan yang menyangkut Sumatera Barat, tidak membutuhkan biaya yang cukup besar.

    Berikut harga tiket masuk yang harus kalian persiapkan:
    Dewasa : Rp 5000,-
    Anak-anak : Rp 3000,-

    Tidak mahalkan? Tetapi jika kalian ingin foto pra–wedding atau shooting maka harga yang harus kalian bayar jauh berbeda. Berikut harga tiket masuk yang harus kalian persiapkan:
    Pra-wedding : Rp 100.000,-
    Shooting : Rp 300.000,-


    Sumber: https://arsitekrumahidaman.com/dekorasi/sejarah-rumah-gadang-di-minangkabau.html



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara



    Asal Mula Lembah Harau Limapuluh Kota

    Legenda ini menceritakan, dahulunya Lembah Harau adalah lautan. Apalagi berdasarkan hasil survey team geologi dari Jerman (Barat) pada tahun 1980, dikatakan bahwa batuan perbukitan yang terdapat di Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat. Batuan jenis ini umumnya terdapat di dasar laut.

    Salah satu air terjun di Lembah Harau Menurut legenda, Raja Hindustan berlayar bersama istri dan anaknya, Putri Sari Banilai. Perjalanan ini dalam rangka selamatan atas pertunangan putrinya dengan seorang pemuda Hindustan bernama Bujang Juaro. Sebelum berangkat, Sari Banilai bersumpah dengan tunangannya, apabila ia ingkar janji maka ia akan berubah menjadi batu dan apabila Bujang Juaro yang ingkar janji, maka ia akan berubah menjadi Ular.

    Namun sayangnya, dalam perjalanan kapal tersebut terbawa oleh gelombang dan terdampar pada sebuah selat (tempat tersebut sekarang dinamakan Lembah Harau). Kapal tersebut tersekat oleh akar yang membelintang pada dua buah bukit hingga akhirnya rusak.

    Agar tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggiran bukit (bukit tersebut sekarang dinamakan Bukit Jambu). Batu tempat tambatan kapal itu sekarang dinamakan Batu Tambatan Perahu.

    Setelah terdampar, Raja Hindustan bersama dengan keluarganya disambut oleh Raja yang memerintah Harau pada waktu itu. Lama kelamaan, karena hubungan baik yang terjalin, Raja Hindustan ingin menikahkan putrinya dengan pemuda setempat bernama Rambun Paneh. Satu hal lagi, untuk kembali ke negeri Hindustan juga tidak memungkinkan. Ia tidak tahu sumpah yang telah diucapkan Sari Banilai dengan tunangannya, Bujang Juaro. Tidak berapa lama kemudian, Rambun Paneh menikah dengan Sari Banilai.

    Waktu terus berjalan, dan dari perkawinan itu lahirlah seorang putra. Suatu hari, sang kakek, si Raja Hindustan, membuatkan mainan untuk cucunya. Sewaktu asyik bermain, mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Anak tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibunya, Putri Sari Banilai tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk mengambilkan mainan tersebut. Sungguh malang, ombak datang menghempaskan dan menjempit tubuhnya pada dua batu besar. Sari Banilai sadar, bahwa ia telah ingkar janji pada tunangannya dahulu, Bujang Juaro. Dalam keadaan pasrah, ia berdoa pada Yang Maha Kuasa, supaya air laut jadi surut. Doanya dikabulkan, tidak berapa lama kemudian air laut menjadi surut. Ia juga berdoa agar peralatan rumah tangganya didekatkan padanya. Dan ia berdoa, seandainya ia membuat kesalahan ia rela dimakan sumpah menjadi batu. Tidak lama berselang, perlahan-lahan tubuh Putri Sari Banilai berubah menjadi batu.

    Keindahan Lembah Harau Limapuluh Kota

    Kecantikan lain yang bisa disaksikan di Lembah Harau Payakumbuh adalah keberadaan air terjun. Di sini tidak hanya ada satu air terjun yang disebut sarasah oleh orang Minang. Air-air terjun yang ada di ini antara lain adalah Air Terjun Sarasa Murai, Air Terjun Akar Berayun, Air Terjun Sarasa Bunta dan Air Terjun Sarasa Luluih. Dan masing-masing air terjun pun mempunyai ciri khas serta keunikan tersendiri.

    Melatih kekuatan fisik dengan memanjat tebing di Lembah Harau dengan Kondisi geologi Lembah Harau sangat cocok untuk dijadikan arena untuk memanjat tebing, pasalnya banyak yang bilang bahwa Lembah Harau sangat cocok digunakan oleh profesional bahkan para pemula.

    Selain menjadi tempat yang pas dijadikan panjat tebing, disekitar Lembah Harau, terdapat Hamaparan sawah yang luas serta hijau, sangat cocok bila dijadikan tempat refreshing atau menyegarkan mata. Menikmati Pemandangan Hamaparan Hijau persawahan

    Memang tiada duanya bila kita bicara tentang pemandangan serta keindahan sunset, selain sedap dipandang, Sunset juga sering di buru sebagai objek para fotografer handal. Bagi kamu yang masih pemula, kamu juga dapat menjadikan Sunset tersebut menjadi latar belakang foto kamu saat berada serta wisata di Lembah Harau untuk Berburu Sunset di kalangan Sore hari Bermain Perahu seperti di Eropa Di sekitaran lokasi wisata Lembah Harau, terdapat sebuah sungai buatan kecil, dan ditambahkan sebuah jembatan, dimana jembatan di sungai kecil Lembah Harau menjadi tempat yang paling bagus dijadikan sebagai latar belakang selfie kamu.

    Lokasi Lembah Harau Payakumbuh

    Lembah Harau yang kini menjadi alah satu destinasi wisata populer di Sumbar merupakan bagian dari wilayah administratif Kecamatan Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota. Kota Payakumbuh merupakan kota yang terdekat dari tempat ini, berjarak kurang lebih 18 kilometer.

    Kota lain yang jaraknya cukup dekat dari Lembah Harau Payakumbuh adalah kota Bukittinggi dan Padang. Jarak antara Bukittinggi menuju ke Lembah Harau kurang lebih 48 kilometer. Sementara kalau berangkat dari kota Padang menuju ke sini, jarak yang harus dilalui mencapai 138 kilometer.

    Lembah Harau memiliki iklim tropis dan tanah yang subur, juga keindahan pemandangan alam yang menawan. Lembah Harau dijuluki Lembah Yosemite di Indonesia karena memiliki keindahan seperti Taman Nasional Yosemite yang terletak di Sierra Nevada California dan telah terkenal ke seluruh dunia.

    Cerita Lain

    Riwayat Hidupnya Sarat Cerita Keramat

    Syekh Ibrahim Mufti, Ulama Tertua dalam Sejarah Syiar Islam di Luak Limopuluah Luak Limopuluah yang merupakan sebutan lain dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh, memang terkenal sebagai gudangnya ulama-ulama masa lalu. Dari banyak ulama itu, Syekh Ibrahim Mufti yang bersurau di Nagari Taram, Kecamatan Harau, diyakini paling awal menyiarkan Islam di daerah yang terkenal dengan adegium ”aienyo janiah, ikannyo jinak, sayaknyo landai, dan buayo putiah daguak panjagonyo” ini. Seperti apa sosok Syekh Ibrahim Mufti yang disebut-sebut berasal dari Timur Tengah?

    Waktu Shalat Ashar berjamaah baru saja berakhir, saat Padang Ekspres tiba di di Surau Tuo Taram, Selasa lalu (4/6). Meski sudah berkali-kali mendatangi dan mengabarkan sejarah surau ini buat sidang pembaca, tapi tetap saja ada nuansa-nuansa baru dalam bingkai religi yang dirasakan saat memasuki kompleks Surau Tuo Taram.

    Saat ini, Surau Tuo Taram yang berada di Jorong Balaicubadak, Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota itu, tampak makin mengkilap. Di samping bangunan surau yang sudah berkali-kali dipugar itu, terdapat makam Syekh Ibrahim Mufti. Masyarakat Nagari Taram dan warga nagari lainnya di Luak Limopuluah bahkan di Sumbar, lebih mengenal Syekh Ibrahim Mufti sebagai Beliau Keramat Taram.

    Sampai kini, belum ada yang tahu kapan Beliau Keramat Taram lahir dan tahun berapa wafatnya. ”Sampai kini, memang tanggal dan tahun lahir Beliau Keramat Taram masih nisbih. Karena tidak ada dokumen khusus yang mencatat tentang itu,” kata Dr Wannofri Samri, sejarawan dari Universitas Andalas Padang saat dihubungi Padang Ekspres, Minggu (10/6). Meski begitu, Wannofri memperkirakan, Syekh Ibrahim Mufti atau Beliau Keramat Taram hidup di atas abad ke-16. ”Walau saya belum meneliti secara khusus sejarah perkembangan Islam di Luak Limopuluah, tapi saya perkirakan Beliau Keramat Taram itu hidup di atas abad 16. Sebab, Islam masuk ke Sumbar baru pada abad 16,” ujar Wannofri Samri.

    Perkiraan ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Barat ini, nyaris cocok dengan keterangan Ramli Datuak Marajo Basa, 79, keturunan Syekh Ibrahim Mufti yang ditemui Padang Ekspres di Nagari Taram. ”Menurut cerita yang kami warisi turun-temurun, Syekh Ibrahim Mufti ini kan bukan orang asli Taram, tapi orang dari Palestina (Timor Tengah). Beliau datang berdakwah ke Taram, bersamaan dengan kedatangan Syekh Abdurrauf Singkil ke Aceh,” kata Ramli. Jika keterangan yang diperoleh Ramli Datuak Marajo secara turun-temurun ini tidak meleset, maka dapat diperkirakan Syekh Ibrahim Mufti datang ke Nagari Taram pada tahun 1600-an atau abad 17. Sebab, Syekh Abdurrauf Singkil yang berasal dari Persia atau Arabia datang ke Aceh pada tahun 1663 Masehi atau 1024 Hijriah. Dengan demikian, dapat diperkirakan Syekh Ibrahim Mufti adalah ulama yang paling tua menyiarkan Islam di Luak Limopuluah.

    Menurut Ramli Datuak Marajo Basa yang mewarisi sejarah Syekh Ibrahim Mufti dari ayahnya Ramsyah Datuak Bagindo Simarajo Nan Panjang (kini kaum Datuak Bagindo Simarajo Nan Panjang yang merupakan kaum dari salah seorang istri Syekh Ibrahim Mufti di Taram sudah punah, red), Syekh Ibrahim Mufti begitu datang dari Arab tidak langsung menuju Nagari Taram. Namun, sempat singgah dulu di wilayah Siak, Provinsi Riau.

    ”Sejarah yang saya terima dari orangtua, Syekh Ibrahim Mufti begitu datang dari Arab bersama Syekh Abdurrauf Singkil tidak langsung ke Taram. Tapi, beliau pergi dulu ke Siak, Provinsi Riau. Setelah itu, baru datang ke Taram. Awalnya, beliau berdagang. Kemudian, menyiarkan agama Islam,” kata Ramli Datuak Marajo Bosa.

    Ramli menyebutkan, selama tinggal di Taram, Syekh Ibrahim Mufti memiliki dua istri. Dengan istri pertamanya dari Suku Piliang Loweh, ia memiliki satu keturunan, yakni Syekh Muhammad Nurdin yang makamnya juga berada di samping Surau Tuo Taram. Sedangkan dengan istri keduanya dari Suku Bodi, Syekh Ibrahim Mufti juga memiliki satu keturunan, yakni Syekh Muhammad Jamil yang meninggal dunia di wilayah Bengkalis, Riau, saat mencari ayahnya.

    Konon, menurut cerita yang diyakini warga Nagari Taram, Syekh Ibrahim Mufti memang pernah menghilang tak tentu rimbanya. Sehingga, membuat anak dan murid-muridnya menjadi cemas. Saat itulah, salah seorang anaknya, yakni Syekh Muhammad Jamil, mencari Syekh Ibrahim Mufti ke wilayah Bengkalis, Provinsi Riau. Sang anak, meninggal dalam pencarian tersebut. ”Adapun Syekh Ibrahim Mufti setelah dicari-cari, tidak ketemu juga. Sampai akhirnya, salah sseorang muridnya bermimpi bertemu Syekh Ibrahim Mufti. Dalam mimpi itu, Syekh Ibrahim Mufti berpesan kepada muridnya, jika ingin mencari saya, maka lihatlah cahaya pada malam 27 Rajab. Di mana ada cahaya itu, di situlah kubur saya,” kata Ramli.

    Singkat cerita, pada malam 27 Rajab yang ditunggu-tunggu itu, salah seorang murid Syekh Ibrahim Mufti melihat ada cahaya dari bumi yang tembus ke atas langit. Begitu dilihat, ternyata cahaya itu bersumber dari sebuah tanah yang berada tidak jauh dari kaki Bukik Bulek (Bukit Bulat) Nagari Taram.

    ”Paginya, di dekat lokasi cahaya itu terlihat sudah ditemukan saja ada kuburan baru. Sejak itu, murid-murid Syekh Ibrahim Mufti dan masyarakat yakin, kuburan tersebut adalah makam Syekh Ibrahim Mufti yang sebelumnya menghilang. Maka di samping kuburan itu, akhirnya dibuatlah Surau Tuo Taram,” ujar Ramli.

    Sarat Cerita Keramat

    Cerita tentang Syekh Ibrahim Mufti yang makamnya hanya diketahui lewat cahaya ini, tidak terlalu mengherankan bagi ulama-ulama tareqat di Minangkabau, apalagi bagi masyarakat Nagari Taram. Sebab, riwayat hidup Syekh Ibrahim Mufti memang sarat dengan cerita keramat. Sudah tidak terhitung penulis dan peneliti yang mengabarkan soal keramatnya Syekh Ibrahim Mufti ini. Bahkan, sastrawan nasional asal Nagari Taram, Damhuri Muhammad yang belakangan menjadi tenaga ahli Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara, sempat menulis cerita pendek (cerpen) tentang Syekh Ibrahim Mufti yang keramat.

    Meski cerpen yang dimuat Jawa Pos (grup Padang Ekspres) edisi Oktober 2005 itu karya ksi, tapi kisah yang ada di dalamnya mirip sekali dengan kisah yang didengar banyak orang ketika berkunjung ke Makam Syeikh Ibrahim Mufti. Bahkan, kalau cerita karangan Damhuri dinikmati sampai akhir, pikiran pembaca pasti akan membayangkan, bagaimana rentetan kisah yang terjadi di Surau Tuo Taram, ratusan tahun nan lampau. Dalam peristiwa yang terjadi pada suatu malam, di mana sebuah cahaya tiba-tiba turun dan seperti menyambar bagian kanan Mihrab Surau Tuo Taram. Tak lama kemudian, warga dari enam jorong yakni Tanjungateh, Tanjungkubang, Tanjung Balai Cubadak, Parakbaru, Sipatai dan Subarang, menganggap cahaya tadi sebagai pertanda letak makam Syekh Ibrahim Mufti yang hilang beberapa tahun.

    Dahmuri juga menjelaskan dengan gamblang, bagaimana Syekh Ibrahim yang sedang mencukur rambut, tiba-tiba hilang dan pergi memadamkan api yang membakar Mekkah. Padahal, ketika itu rambutnya baru separuh yang dicukur. Bukan hanya itu, Damhuri menceritakan pula soal negeri Taram yang dulu bertanah gersang. Tak ada sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada sawah yang ditanami, itu hanya mengharapkan curah hujan. Tapi, sejak kedatangan Syekh Ibrahim Mufti perlahan-lahan alam mulai bersahabat. Keadaan berubah menjadi lebih baik.

    Waktu itu, Syekh Ibrahim menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya tongkat itu sambil berjalan ke arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat Syekh Ibrahim seketika lembab, basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. Sesampai di ujung paling Timur, Syekh berhenti. Dibiarkannya tongkat itu tertancap. Lebih dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau berhenti ini dinamai, Kapalo Banda. Itulah mata air pertama di Taram yang kini menjadi objek wisata.

    Apa yang diceritakan Damhuri tersebut, sesuai betul dengan cerita dari mulut ke mulut yang diperoleh Padang Ekspres ketika berkali-kali mengunjungi Surau Tuo Taram dan makam Syekh Ibrahim Mufti. Terkait, cerita-cerita keramat ini sejarawan Wannofri Samri punya pendapat menarik.

    ”Memang, Syekh Ibrahim Mufti itu punya banyak cerita keramat. Termasuk, cerita beliau pergi memadamkan api di Mekkah saat sedang mencukur rambut. Walau sampai sekarang belum diketahui kapan tanggal dan tahun terjadinya kebakaran di Mekkah itu, tapi saya yakin cerita serupa yang juga terdengar di sejumlah nagari di Sumbar ini, pasti ada maksud dan tujuannya. Salah satunya, bisa jadi perwujudan dan bertujudan, agar umat dekat dan patuh kepada ulama sebagai pewaris nabi,” komentar Wannofri Samri.

    Sumber Berita : Fajarillah Vesky - Padang Ekspres






      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat


    Sumber image: https://travel.kompas.com/read/2014/08/05/153430427/Melintasi.Jembatan.Kelok.9.di.Sumatera.Barat

    Usut punya usut, hal itu tak lain merujuk pada jalan berkelok-kelok melewati perbukitan di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

    Jalan itu, jika direntang lurus hanya sepanjang 300 meter dengan lebar jalan 5 meter yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda pada 1908-1914 untuk memperlancar transportasi dari Pelabuhan Emma Haven [Teluk Bayur] di barat Sumatra ke wilayah timur.

    Namun, seiring berkembangnya waktu, jalan itu tak mampu lagi menampung volume kendaraan yang melewati rute tersebut, sehingga kemacetan tak terelakan. Solusinya, diusulkanlah pembuatan jembatan layang menembus dua bukit yang mengapit jalan tersebut.

    Maka pada 2003, dimulai pembangunan Jembatan Kelok Sembilan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (sekarang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dengan konsep green construction atau ramah lingkungan karena berada di wilayah cagar alam. Pembangunan jembatan dengan biaya Rp580 miliar itu dikerjakan dalam kurun waktu 10 tahun.

    Jembatan Kelok Sembilan dibagi dalam enam buah jembatan dengan ditambah jalan penghubung sepanjang lebih dari 1,5 kilometer.

    Untuk enam jembatan itu, masing-masing memiliki panjang yang berbeda. Jembatan pertama dengan panjang 20 meter, jembatan kedua 230 meter, jembatan ketiga 65 meter, jembatan keempat yang paling panjang 462 meter, jembatan kelima 31 meter, dan jembatan keenam sepanjang 156 meter.

    Jembatan itu memiliki lebar 13,5 meter, sehingga sangat luas bagi kendaraan yang melewatinya. Bahkan, di sisi jembatan juga diberi ruang yang cukup luas, sehingga pengguna jalan bisa parkir kendaraan.

    Karena, Jembatan Kelok Sembilan sudah menjadi menjadi lokasi transit dan ikon wisata baru di kawasan itu, maka banyak pula masyarakat yang memanfaatkan momen itu untuk berdagang.

    Sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20170628/15/666745/jalur-mudik-sumatra-mengapa-dinamakan-kelok-sembilan



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat



    Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau Kebun Binatang Bukittinggi, merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Bermula dari gagasan ide seorang Belanda yang bertugas di Fort de Kock, bernama Gravenzanden, tempat ini dibangun pada tahun 1900 dengan nama Stormpark.

    Tahun 1933, tempat ini melakukan pertukaran koleksi dengan Kebun Binatang Surabaya. Dengan begitu, Kebun Binatang Bukittinggi memiliki spesies hewan dari Indonesia Timur. Setelah masa penjajahan, nama Fort De Kocksche Dieren Park berganti menjadi Taman Puti Bungsu. Hingga akhirnya pada tahun 1995 melalui peraturan daerah No. 2 Tahun 1995 ditetapkan menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan.

    Kebun Binatang Bukittinggi memiliki rumah adat Minangkabau yang disebut dengan Rumah Adat Baanjuang. Difungsikan sebagai museum, rumah adat yang didirikan sekitar pada tahun 1935 ini diupayakan untuk mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau. Didalamnya Teman Traveler dapat menemukan pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas dari Minang.

    Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan terhubung dengan peninggalan sejarah Belanda, Benteng Fort de Kock. Tempat tersebut dibangun pada tahun 1825. Dua tempat tersebut dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh, sebuah jembatan gantung yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 3,8 meter.

    Sumatera Barat memiliki berbagai jenis destinasi wisata. Selain Ngarai Sianok dengan pemandangannya yang luar biasa, Teman Traveler juga dapat mengunjungi Kebun Binatang Bukittinggi.

      Harga Tiket Masuk
  • Dewasa : Rp 10. 000
  • Anak anak : Rp 8. 000

    Jam Buka

    Taman Margasatwa serta Budaya Kinantan Sumatera ini buka sehari-hari jam 08. 00-18. 00 WIB

    Sumber:https://travelingyuk.com/kebun-binatang-bukittinggi/114592/



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara



    Sejarah Singkat Museum Bung Hatta

    Rumah Kelahiran Bung Hatta terletak di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatera Barat. Rumah ini adalah tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya sampi berusia 11 tahun. Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

    Rumah yang didirikan sekitar tahun 1860-an dan menggunakan struktur kayu ini terdiri dari bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan pavilion berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta.

    Rumah asli tempat Bung Hatta dilahirkan sudah runtuh di tahun 1960-an, tetapi atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, maka rumah tersebut dibangun ulang sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran masa kecil sang proklamator di kota Bukittinggi. Penelitian pembangunana ulang dimulai dari bulan November 1994 dan dimulai pada tanggal 15 Januari 1995. Rumah ini diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta sekaligus dalam rangka merayakan 50 tahun Indonesia Merdeka.

    Rumah ini dibangun mengikuti bentuk aslinya yang dapat dilihat di memoir Bung Hatta dan berbagai foto/dokumentasi milik keluarga Bung Hatta. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

    Bung Hatta yang merupakan wakil presiden RI pertama juga merupakan bagian dari delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Bung Hatta adalah orang pertama yang menjabarkan politik luar negeri yang bebas dan aktif, yang menjadi landasan polugri Indonesia sampai saat ini.

    Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902 dari pasangan H. Muhammad Djamil dan Saleha dan merupakan keturunan kedua dari Syech Adurrachman yang dikenal pula sebagai Syech Batuhampar. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902-1913, waktu yang meskipun relatif singkat namun memberikan kenangan mendalam dan pengaruh yang besar dalam pembentukan karakter beliau. Disiplin kerja, ketepatan waktu, kesederhanaan dan kasih sayang yang beliau lihat dan contoh dari kakeknya, H. Marah atau Pak Gaek, bermula dari rumah ini. Pak Gaek yang merupakan kontraktor pos partikelir bekerja dengan ketelitian, disiplin, organisasi yang baik, dan tepat waktu dalam menyiapkan segala kebutuhan pengiriman memberikan kesan yang berbekas di pikiran Bung Hatta.

    Bung Hatta menimba pendidikan sekolah dasarnya di Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi, melanjutkannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), SMP 1 Padang saat ini, dan Prins Hendrik School (PHS) di Batavia. Beliau melanjtukan pendidikan di Handels Hooge School- sekolah dagang di Rotterdam, Belanda dari tahun 1921-1932.

    Bung Hatta dikenal sebagai aktivis dan pejuang sejak masa sekolahnya, dimana beliau bersama teman-temannya mendirikan Jong Sumateranen Bond baik di Padang maupun Batavia, Perhimpunan Indonesia di Belanda, dan Pendidikan Nasianal Indonesia (PNI Baru). Beliau mengalami masa pembuangan di Digul, Bandaneira, dan Bangka.

    Bung Hatta menjadi proklamator kemerdekaan RI bersama Soekarno, keduanya menjadi presiden dan wakil presiden RI yang dalam masa kepemimpinannya terjadi perundingan Linggadjati, Renville, Roem-Royen dan akhrinya Bung Hatta mewakili RI dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag Belanda di mana akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

    Sumber:https://www.kemlu.go.id/id/tentang-kemlu/bangunan-bersejarah/Pages/Rumah-Kelahiran-Bung-Hatta.aspx



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara



    Salah satu objek wisata alam yang terdapat ngarai ini adalah Janjang Saribu atau Tangga 1000. Janjang dalam bahasa Padang artinya adalah tangga. Saribu artinya seribu. Jadi Janjang Saribu berarti tangga yang jumlahnya seribu. Itu makna dari segi bahasa.

    Dari segi defenisi tentu saja berbeda. Karena jumlah tangga di sini tidak sampai 1000 buah. Ratusan iya. Tapi karena jumlahnya sangat banyak, maka dianggap saja 1000. Mungkin orang dulu juga ngga mau repot-repot menghitung jumlah sebenarnya tangga yang terdapat di sana kali ya, hehehe.

    Jadi, Janjang Saribu adalah sederetan ratusan anak tangga yang terdapat dinding atau tebing Ngarai Sianok. Janjang Saribu dan Janjang Koto Gadang alias Tembok Besar Cina mini itu beda. Sama-sama terdapat di Ngarai Sianok tapi lokasinya beda. Kedua objek wisata tersebut berjarak kira-kira km.

    Awalnya saya tidak tau persis lokasi Janjang Saribu ini. Tapi ketika saya jalan ke Taruko Café Resto, di seberang sungai saya melihat deretan huruf-huruf berwarna merah menyala yang terbaca Janjang Saribu. Saya coba jalan ke sana sekembali dari restoran Taruko Cafe yang ada di Ngarai Sianok. Tetapi tidak jadi masuk ke kawasan Janjang Saribu, karena hari sudah sangat sore.

    Puncak dari Janjang Saribu ini adalah sebuah kampung yang bernama Bukik Apik atau Bukit Apit. Dulunya Janjang Saribu adalah tangga yang digunakan warga masyarakat Bukit Apik untuk mengambil air ke sungai yang terdapat di dasar ngarai. Deretan tangga ini berada di dinding ngarai yang tegak curam yang bahkan berada pada kemiringan sudut 90 derajat.

    Taman panorama yang ada di puncak ngarai tidak besar. Taman tersebut kurang terawa. Bahkan pondok istirahatnya sudah tumbang. Lokasi taman panorama Janjang 1000 ini berada di belakang rumah penduduk. Jalan untuk menuju ke taman tersebut berupa jalan setapak yang diberi konblok yang kiri-kanannya adalah aparak atau kebun penduduk. Jarak taman ini kira-kira 100 m dari jalan raya.

    Meskipun berada di dekat parak (kebun) rumah penduduk, pemandangan Ngarai Sianok di taman yang sederhana ini indah berlatarkan Gunung Singgalang. Pengunjung yang datang umumnya ingin merasakan petualangan dan sensasi naik – turun tangga di tebing Janjang Saribu yang curam dan terjal ini. Ada yang datang dari arah ngarai di bawah tangga, ada juga yang datang dari arah taman di Bukik Apik.

      Cara menuju Janjang Saribu
  • Jika kita ingin masuk ke kawasan Janjang Saribu dari dasar Ngarai Sianok.
  • Kalau naik mobil sendiri atau carteran, dari Taman Panorama Lubang Japang, lurus aja kira-kira 500 m, nanti akan ketemu simpang empat.
  • Ambil jalan ke kiri yang menurun ke bawah. Nanti akan ketemu pintu masuk Lubang Japang dan gerbang janjang Koto Gadang.
  • Terus aja sampai ketemu jembatan yang di sampingnya ada cafe atau restoran.
  • Kalau naik angkot dari Pasar Bawah jurusan Ngarai, sama dengan angkot yang ke Janjang Koto Gadang. Berhenti dan turun di jembatan pertama yang ada di dasar ngarai (kira-kira 150 m setelah gerbang Janjang Koto Gadang dan pintu Lobang Jepang.
  • Di seberang jalan dekat jembatan ada Café Ngarai yang berada di pinggir sungai, lantas menyeberang ke parkiran kafe.
  • Masuk ke jalan yang ada di gerbang kecil sebelah kafe. Dan susuri jalan sepanjang pinggir sungai sejauh 0,5 – 1 km.
  • Ongkos angkot dari Pasar Bawah ke Ngarai Rp 4.000.
  • Tidak ada tarif resmi masuk ke Janjang Seribu ini, tetapi masyarakat yang ada di bawah Ngarai Sianok menarik tarif masuk Rp 2.000 dari pengunjung

      Jika kita masuk dari atas Ngarai Sianok.
  • Kita naik angkot jurusan Bukik Apik atau Bukit Apit dari Pasar Bawah.
  • Nanti turun di depan mesjid Baiturrahman, Janjang Saribu.
  • Gerbang jalan ke Janjang Saribu persis ada di samping halaman mesjid. Susuri jalan setapak tersebut kira-kira sejauh 100 m sampai terlihat taman kecil yang tidak terawat. Kira-kira 100
  • Ongkos angkot dari Pasar Bawah ke Bukit Apit adalah Rp 4.000.
  • Tidak ada tarif masuk ke Panorama Janjang Saribu. Hanya mebayar parkiran motor Rp. 1000 – Rp. 2000 saja.
  • Nah, kalau saya ke Janjang 1000 yang lewat bawah ngarai, naik ojek karena sembari Rumah Amai Setia Siti Rohana Kudus di nagari Koto Gadang.
  • Dari simpang empat jalan jalanpanorama dan ngarai. Saya bayar ojek ke Janjang Saribu, Koto Gadang 9muter-muterjuga di Koto gadang, sampai ke Janjang Koto Gadang juga), terus baliknya diantar ke Jam Gadang ongkosnya 25.000.

    https://firstychrysant.wordpress.com/2016/07/20/janjang-saribu-1000-ngarai-sianok-bukittinggi-sumatera-barat



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara

    Asal Mula Janjang Ampek Puluah

    Janjang Ampek Puluah adalah satu kesatuan dari kawasan yang disebut sebagai pasar Kota Bukittinggi. Sekeliling Jam Gadang merupakan pusat perdagangan rakyat, merupakan pasar tradisionil sejak masa silam bagi “Urang Agam” dan “Urang Kurai” dalam “transaksi” dengan “orang luar.”

    Untuk satu masa, direntang tahun 60-70-an konon pada keramaian setiap hari pekan di Bukittinggi, Rabu dan Sabtu, akan terlihat ada seorang lelaki dengan matanya yang buta bermain alat music tradisi kucapi (kecapi). Lelaki itu bernyanyi dan memainkan kucapi di salah satu anak tangga di Janjang Ampek Puluah, diantara keramaian orang turun naik tangga.

    Lelaki buta itu tidak hanya sekadar “keriangan hati” saja bernyanyi dan bermain music. Dia mengharap pada orang yang tersuka dengan permainannya, akan berbagi uang padanya. Uang itu dalam memenuhi kebutuhan hidup anak dan cucunya.

    Lelaki buta itu bekerja “menjual” kemampuan seni-otodidaknya. Bekerja sesuai dengan kondisi “kebutaannya” tidak sekadar menggunakan “keterbatasannya” untuk meminta-minta belas kasihan pada setiap orang.

    Lelaki buta itu namanya “Pakiah Geleang.” Namanya sangat popular bagi masyarakat, terutama para pedagang dihari pekan Bukittinggi. Nama aslinya tentulah bukan Pakiah Geleang. Penamaan tersebut merupakan hal biasa bagi Orang Minang. Penamaan semacam itu disebut nama “gala,” gelar diberikan orang berdasarkan spesifiknya sebagai penanda seseorang.

    Tokoh Pakiah Geleang kemudian menjadi inspiratif bagi seorang pencipta lagu Minang, Syahrul Tarun Yusuf untuk menciptakan sebuah lagu berjudul, “Pakiah Geleang.” Lagu ini sampai hari ini tetap popular sebagai salah satu lagu Minang Klasik. Pertamakali dinyanyikan dan dipopulerkan dengan suara emasnya oleh penyanyi Minang legendaries Elly Kasim di tahun 1970-an. Selain direkam pada bentuk pita casset, juga dicetak ke piring hitam dan diputar tiap saat di radio-radio pada zaman media hiburan masih terbatas di Indonesia.



    Saya kutipkan bait pertama dan kedua dari lagu tersebut:
    “Dahulunyo (ondeh) di Pasa Teleang
    Iyo takaba si Pakiah Geleang
    Jikok banyanyi nyo manggeleang-geleang
    Mangko namonyo si Pakiah Geleang”

    [Terjemahannya: Dahulunya di Pasa (r) Teleang/ Sangat terkenal si Pakiah Geleang/ Kalau bernyanyi ---kepalanya--- menggeleng-geleng/ Karenanya dinamakan si Pakiah Geleang]


    Hari Rabaa (ondeh) jo hari Sabtu
    Di Janjang Ampek Puluah Pakiah balagu
    Mancari makan untuak anak jo cucu
    Urang mancaliak (sanak) rami di situ

    [Terjemahannya: Hari Rabu dan hari Sabtu/ Di Janjang Ampek Puluah Pakiah balagu ---bernyanyi/ Mencari makan untuk anak dan cucu/ Orang menonton ramai di sana]


    Pada bait pertama menggambarkan asal muasal dan memperkenalkan tentang nama sang tokoh, Pakiah Geleang. Sedangkan bait kedua pekerjaan yang dilakukan Pakiah Geleang dan tempat Pakiah Geleang bekerja serta menjelaskan tujuan dan kegunaan atas uang yang didapatkannya. Sebagai suatu bentuk harfiah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

    Apakah keistimewaan seorang Pakiah Geleang, sampai harus saya mengutip sebuah lagu perihal beliau, untuk dijadikan topik pembicaraan tulisan saya ini ???

    Berkait kepada akan diselenggarakannya Seminar Sastera Melayu-Islam 2017 oleh Numera dan Masjid Abdul Rahman bin Auf, Kuala Lumpur, Malaysia di bulan September 2017 mendatang. Dimana seminar akan menampilkan sejumlah pemikir sastra sekaligus penyair --- akademisi sekaligus penyair dan akan dihadiri oleh penyair, orang sastra, akademisi, melibatkan terutama dari Malaysia sendiri, Indonesia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Bangladesh. Masih dimungkinkan, acara ini juga akan terbuka dihadiri peserta dari Negara lainnya.

    Seminar akan menampilkan Hudan Hidayat Gozali dari Indonesia sebagai “pengucap utama.” Namanya baru saya kenal sama-sama hadir di Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 di Kuala Lumpur. Belum pernah membaca tulisannya, pun juga tak mengikuti jejak rekamnya. Hudan “saya ketahui hanya sebatas” waktu terakhir ini terlihat intens memiliki “keterhubungan sastra” dengan tokoh Sasterawan Negara 11 Malaysia, Dato Ahmad Khamal Abdullah, Presiden Numera Malaysia --- penggagas seminar sastera yang akan diselenggarakan.

    Dalam decade terakhir ini, diakui atau tidak, dunia kesastraan kita khususnya, sangat terasa tidak memiliki personal-personal yang “mengabdikan diri” kepada intensitas kesastraan. Sementara perkembangan kesastraan itu sendiri, dalam beberapa tahun terakhir ini, tumbuh bak cendawan di musim hujan. Terbantu pula dengan adanya media social yang dimungkinkan oleh kemajuan hasil teknologi serupa internet.

    Pertumbuhan kesastraan jauh melesat. Karya-karya tiap saat dapat dituliskan dan diposting melalui media social tanpa harus melalui seleksi, editing dan pertimbangan seorang redaktur. Sangat jauh beda bila berhadapan dengan media cetak atau media elektronik, setiap karya harus melalui persyaratan dan giliran untuk dipublish.

    Belum lagi “kemeriahan” itu ditambah lagi, dengan munculnya berbagai komunitas di berbagai tempat. Menghadirkan beragam kegiatan dengan aneka label, semuanya tak mau kalah mengacu kepada “atas nama” daerah, regional, nasional dan internasional. Kebebasan pelabelan itu, karena memang tidak ada aturannya. Sama juga setiap orang bisa melabelkan dirinya sendiri sebagai penyair atau biar gagah dan hebat sebagai sastrawan, kalau tak ada orang lain yang hendak melabelkan namanya.

    Buku-buku pun tiap saat diterbitkan. Dalam tempo singkat, seseorang bisa menulis 3 – 5 buku atau lebih. Nama-nama penerbitnya pun beragam. Begitu ramainya, sulit juga untuk diingat nama penulisnya, nama buku, termasuk nama penerbitnya sendiri. Tentu saja ketiga hal itu dapat disebut sebagai “segala baru.” Sesuatu yang baru biasanya pula sudah biasa belum dikenal secara luas, seluas-luasnya. Dan untuk “dikenal” itu tak dapat dipungkiri tak mudah, tidak “semudah” seperti pelabelan, kemeriahan dan penerbitan yang tengah berlangsung.

    Seperti di kehidupan sastra Indonesia pada masa dahulu, ada nama yang dikenal, karena peranannya dalam lajunya kesastraan serupa, HB Jassin dan A.Teeuw. Ada Umar Junus, Mursal Esten dan pada tingkatan lebih muda Korrie Layun Rampan. Mereka rajin mengikuti dan menelisik karya-karya yang terlahir dan tumbuh berkembang di jagat “sastra.” Dan kita akui bersama, hasil penelisikannya pun tidaklah mengecewakan. Karena yang ditelisik memang “karya sastra” diantara karya-karya yang juga bertumbuhan di sana-sini sesuai zamannya.

    “Keterhubungan” Hudan Hidayat Gozali dari Indonesia kepada karya-karya Kemala ---Dato Ahmad Khamal Abdullah--- tampaknya sudah terjadi pada sebelum-sebelumnya. Pada rangkaian Anugerah Puisi Dunia Numera 2014 yang silam, dia pun hadir selintas di forum pembacaan puisi di Tun Sri Lanang, Dewan Bahasa Pustaka, Kuala Lumpur, dengan cuplikan mengenai buku kumpulan puisi “A’yn” Kemala. Kemudian kalau tak salah, melanjutkan terkait pembicaraan tersebut di UPSI ----University Pendidikan Sultan Idris.

    Sebagai Pengucap Utama pada Seminar Sastera Melayu-Islam 2017, Hudan akan menuliskan “ucap utamanya” dalam bentuk buku esei. Bulan desember 2016 ini, ia telah memposting cuplikannya berkait untuk seminar di laman tertutup fb “NUMERA: The new poetry of Numera’s and world poests.” Saya (sempat) sepintas membacanya, tampaknya Hudan. mengurai pemaknaan dan keberadaan karya-karya Kemala ---SN Ahmad Khamal Abdullah--- dalam perspektif karya sastra, unsure Melayu, sejarah dan relegiusitas. Keterhubungannya sastra nusantara dan kesastraan dunia.

    Selanjutnya Ucap Utama Hudan, akan ditanggapi oleh penanggap yakni DR Arbak Othman dari Malaysia. Selain Hudan, akan hadir sejumlah pemikir sastra dan akademisi sastra yang sekaligus juga penyair, dapat dianggap mewakili zamannya. Mereka akan membentangkan kertas kerja. Misalnya sekadar menyebut nama saja seperti DR Ahmad Taufiq dari Jember (Indonesia) akan mengurai tentang Pujangga Ronggowarsito dan Chairil Anwar. Drs. Dasril Ahmad dari Padang (Indonesia) akan mengurai sastera daerah (?).Mungkin berkait dunia kepenyairan-keislaman di Ranah Minang. DR Phaosan Jehwae dari Pattani (Thailand) mengurai atmosfir kesasteraan di negaranya.

    Terutama tentu mungkin dapat “dibaca” semua topic kertas kerja adalah merupakan yang dapat dijadikan sebagai gambaran perjuangan kesastraan dan perjuangan keislaman, yang akan diangkat sebagai pembicaraan pada forum seminar nantinya. Termasuk kehadiran Aminur Rahman dari Bangladesh. Semakin melengkapi maksud dan tujuan dari peristiwa yang akan diselenggarakan.

    Seminar Sastera Melayu-Islam 2017 bertemakan “Melestari & Mengabdi Sastera Melayu Islami.” Dimungkinkan dari peristiwa sastra ini, akan banyak dipetik jejak-jejak sejarah, lintasan atau pendalaman terhadap keberadaan sastera yang bernafaskan keislaman di nusantara ini. Baik pada kesastraan lama maupun sastra modern. Tentu saja dapat memetakan pembicaraan dalam menyikapi perkembangan kesastraan Negara serumpun, kenusantaraan yang terikat dalam etnik-budaya-agama. Termasuk mengungkap keberadaan dunia kepenyairan di Negara masing-masing selama ini, kekinian dan masa datang.

    Merujuk kepada hal tema dan topic yang akan dimunculkan pada seminar tersebut, terutama berkait dengan keislaman, saya seketika teringat, terutama dalam kehidupan seni tradisi masyarakat di Minangkabau yang menjadi bahagian dari wilayah budaya nusantara, kesastraan yang Islami itu sudah “hidup” sejak lama pada sastra lisannya. Telah memiliki sejarahnya yang panjang, setidaknya dimulai dari era Datuak Katumangguangan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Sesuai dengan landasan hidup etnik Minangkabau, “Adaik basandi syara’ – Syara’ basandi kitabullah.” (Adat bersendikan agama, agama bersendikan kitab --- Al Qur’an).

    Salah satu contoh perihal kisah tokoh semacam si Pakiah Geleang, misalnya, yang saya kemukakan ini. Saya melihat pada tiga hal terhadap topic Pakiah Geleang yang saya sebutkan.

    Pakiah Geleang tidak sekadar hanya mengandalkan bermain music dan menyanyi untuk mendapatkan uang sebagai pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya saja. Tetapi ia berperan untuk bersyiar keagamaan lewat seni sastra (lirik pantun) dan seni suara (bernyanyi) sekaligus seni music (kecapi), kepada setiap yang mendengar ia menyanyi, agar tetap menjalankan ibadah (sholat) sebagai orang Islam.



    Seperti yang digambarkan oleh bait lagu Pakiah Geleang berikutnya:

    Matonyo buto (ondeh) hatinyo tarang
    Jo kucapi Pakiah lah badendang
    Pantun jo lagu manyuruah urang
    Sakali jangan (sanak) tingga sumbayang

    [Terjemahannya: Matanya buta tapi hatinya terang/ Dengan kecapi Pakiah berdendang/ Pantun dan lagu menyuruh ---menghimbau/mengingatkan--- orang/ Sekali jangan tinggalkan sholat]


    Kedua: Pakiah Geleang sebagai “sebuah lagu.”



    Lagu Pakiah Geleang diciptakan tahun 1970-an ini oleh seniman penciptanya, menurut saya merupakan teks karya sastra bernafas Islami. Seperti banyak lagu-lagu Minang Klasik yang pernah popular di blantika pop music Minang, mayoritas mengambil dan menyerap dari “kesastraan lisan,” tradisi yang hidup di tengah kehidupan kebudayaan masyarakat Minang. Sehingga lagu tersebut disenangi dan akrab bagi masyarakat. Popular sepanjang masa, semacam lagu Pakiah Geleang ini.

    Dengan adanya lagu ini, tokoh Pakiah Geleang yang bersyiar agama di Janjang Ampek Puluah akan tetap diingat dan dicatat. Dari masa ke masa.

    Pakiah Geleang sebagai sebuah lagu, selain bentuk hiburan tapi berperan sebagai suatu kelanjutan kesyiaran Islami yang telah dilakukan oleh Pakiah Geleang, untuk “mengingatkan” agar masyarakat terhadap kewajiban melaksanakan ibadah.

    Ketiga: Pakiah Geleang Sebagai Simbol Zaman.



    Saya menyimpulkan, Tokoh Pakiah Geleang dan lagu Pakiah Geleang, adalah salah satu dari symbol perjalanan zaman. Simbol dari upaya “syiar” dan upaya “pemenuhan” kebutuhan hidup. Dimana keduanya, merupakan suatu tantangan untuk menjalankan dalam satu kesatuan bersamaan pada “seseorang.” Salah-salah kegiatan “syiar” dianggap komersil. Atau sebaliknya “komersil” dianggap memanfaatkan “syiar.”

    Tetapi penekanan pembicaraan saya ini, dengan mengambil sample Pakiah Geleang, tidak ke arah perubahan zaman perihal “penyelewengan” atas “kepentingan-kepentingan” terhadap keagamaan. Namun saya menekankan, tokoh Pakiah Geleang, dapat menjadi symbol, dimana kita merindukan orang seperti dia disaat gebalau zaman, dimana kita memerlukan suri tauladan dan akhlak yang baik. Karenanya sebagaimana di bait akhir lagu Pakiah Geleang, saya kutipkan: Sajak nyo pasa (ondeh) habih tapanggang Si Pakiah Geleang kini lah hilang Namun lagunyo dikana urang Itu kisahnyo (sanak) si Pakiah Geleang [Terjemahannya: Sejak pasar habis terbakar/ Si Pakiah Geleang kini sudah hilang atau tak ada lagi/ Namun lagunya diingat orang/ itulah kisahnya si Pakiah Geleang] Tidakkah ini sebagai suatu kisah simbolik sangat actual pada hari ini ??? Ketika terjadi musibah kebakaran yang meluluh-lantakkan pasar, kemudian untuk membangun kembali pasar yang dibutuhkan oleh banyak orang perlu proses. Tentu saja tidak secepat proses kebakaran yang menghancurkan. Ketika proses pembangunan selesai, bangunan baru dan suasananya juga baru, waktunya tidak lagi sama, sang tokoh Pakiah Geleang tak pernah terlihat lagi. Dia yang buta dan bernyanyi di Janjang Ampek Puluah tinggal cerita. Hanya sebuah lagu pop, kemudian dapat mengabadikannya (*)

    Sumber:http://abrarkhairulikhirma.blogspot.com/2016/12/kisah-pakiah-geleang-di-janjang-ampek.html



      Baca Juga wisata Sumatera Barat Lainnya
  • Wisata Kapalo Banda Taram Di Sumatera Utara
  • Bukik Bulek Taram Wisata Padang Sumatera Utara
  • Rumah Gadang / Rumah Gadang di Sungai Beringin
  • Wisata Lembah Harau Limapuluh Kota Di Padang Sumatera Utara
  • Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat
  • Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta Wisata di Sumatera Barat
  • Wisata Museum Bung Hatta Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Saribu Di Sumatera Utara
  • Wisata Janjang Ampek Puluah Di Sumatera Utara
  • Wisata Lobang Jepang Bukittinggi Di Sumatera Utara
  • Wisata Ngarai Sianok Di Sumatera Utara
  • Wisata Jembatan Limpapeh Di Sumatera Utara
  • Wisata Benteng Fort de Kock Di Sumatera Utara
  • Wisata Jam Gadang Di Sumatera Utara
  • Wisata Masjid Agung Al-Muhsinin Di Sumatera Barat
  • Wisata Kebun Teh Alahan Panjang, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Dieteh dan Danau Dibawah Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Talang – Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Sarasah Batimpo Di Sumatera Barat
  • Wisata Air Terjun Kapalo Banda Koto Hilalang Di Sumatera Barat
  • Wisata Danau Singkarak Di Sumatera Barat
  • Wisata Rumah Pohon, Laing Park, Solok Di Sumatera Barat
  • Wisata Puncak Gagoan Di Sumatera Barat
  • Wisata Miniatur Makkah Di Sumatera Barat
  • Wisata Sitinjau Lauik Di Sumatera Barat
  • Wisata museum Adityawarman Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Air Manis Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Nirwana Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Pasir Jambak Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Padang Sumatera Barat
  • Wisata Jembatan siti nurbaya Sumatera Barat
  • Wisata Lubuak Rantiang Sumatera Barat
  • Wisata Pantai Carolina Sumatera Barat
  • Share:

    Definition List

    Unordered List








    Support

    Calendar Widget by CalendarLabs