Permainan Engkeb – engkeban Tradisional Bali



Kalau yang ini nama lain dari petak umpet. Sudah kenal kan dengan permainan seru satu ini? Iya, para pemain harus bersembunyi untuk dicari oleh seorang pemain yang berjaga. Semakin banyak pemainnya semakin seru, Zens. Kalau permainan yang satu ini, beberapa anak-anak Bali masih suka memainkannya.

Sumber:https://malangtoday.net/flash/bali/4-permainan-tradisional-bali/

Share:

Permainan Metajog Tradisional Bali



Kamu mestinya sudah kenal dengan permainan ini. Kalau daerah di luar Bali lebih mengenalnya dengan egrang. Untuk tata cara dan alatnya sama kok Zens. Tentunya kamu harus memiliki keseimbangan yang baik untuk memainkannya. Gampang-gampang susah! Biasanya permainan ini muncul saat perayaan 17 Agustus.

Sumber:https://malangtoday.net/flash/bali/4-permainan-tradisional-bali/

Share:

Permainan Megoak-goakan Tradisional Bali



Permainan tradisional Bali yang ini menjadi suatu tradisi si Desa Panji, Sukasada, Buleleng, Bali. Sebagai tradisi, permainan ini dimainkan setahun sekali pada hari Ngembak Geni setelah Nyepi.

Biasanya permainan ini mengambil tempat di sawah berlumpur yang luas supaya lebih seru. Dalam permainan ini, para pemain dibagi dalam dua tim. Satu tim berisi 11 orang. Kemudian kedua tim saling berhadapan dengan berbaris seperti goak (burung gagak) saat mengincar mangsa. Pemenang dalam permainan ini adalah tim pertama yang berhasil menangkap ekor atau orang paling belakang dari tim lawan.

Sumber:https://malangtoday.net/flash/bali/4-permainan-tradisional-bali/

Share:

Permainan Meong-meongan Tradisional Bali



Cukup familiar kan dengan kata ‘meong’? Nah, tepat sekali. Meong merupakan suara kucing dan maksud permainan ini adalah permainan kucing-kucingan.

Meong-meongan biasa dimainkan oleh lebih dari delapan pemain dengan satu orang sebagai tikus dan satu lagi sebagai kucing. Cara memainkannya, yang berperan sebagai kucing berada di luar lingkaran besar para pemain lain. Sedangkan pemeran tikus berdiri di tengah lingkaran besar.

Kemudian seluruh pemain mengawali permainan dengan bernyanyi. Para pemain yang membentuk lingkaran ini harus melindungi pemain tikus dari pemain kucing. Namun, mereka tidak lagi melindungi pemeran tikus ketika sampai pada lirik “juk-juk meng juk-juk kul”.

Pada saat tersebut, pemeran kucing bisa masuk ke dalam lingkaran untuk menangkap pemeran tikus. Sedangkan pemeran tikus bebas keluar masuk lingkaran. Permainan akan berakhir ketika pemeran kucing berhasil menangkap tikus. Jika sudah begitu, permainan bisa diulang kembali dengan pemeran tikus bergantian menjadi pemeran kucing dan seterusnya.

Sumber:https://malangtoday.net/flash/bali/4-permainan-tradisional-bali/

Share:

Permainan Pijak bayang / Injak Bayangan Tradisional Sumatera Barat



Permainan yang satu ini kayaknya juga hasil variasi dari kreatifitas generasi 90-an di Sumbar,karena gak semua orang tau permainan ini. Ini permainan yang paling simpel dan tukang ngejar bayangan nya bakalan bau matahari.

Permainan ini simple, suit menentukan yang jadi tukang kejar bayangan, yang lainnya lari berdiri di tempat teduh dan sekali-kali lari ke daerah panas buat ngasih kesempatan yang jaga ngejar bayangan nya supaya bisa di injak.

Ada yang pernah main permainan yang satu ini? Menurut penulis ini permainan akibat terlalu berkreasi, kreasi buat menjebak tukang ngejar bayangan supaya panas-panasan dan yang lain asik di tempat teduh.

Sumber:https://www.infosumbar.net/budaya-dan-seni/20-permainan-generasi-90-an-di-sumatera-barat/


Share:

Permainan Suruak lidi / Sembunyi lidi Tradisional Sumatera Barat

Permainan yang satu ini kayaknya gak se-mainstream main mancik-mancik, mungkin karena main mancik-mancik lebih heboh dan berkeringat sekalian bisa lari-lari, sedangkan permainan ini cuman sambil jongkok aja.

Permainan ini sangat sederhana katanya, nemu tanah dan ranting kayu, jadi deh. Permainan ini kayak mancik-mancik tapi versi lidi nya, lidi yang di kendalikan sama juragan mancik nya, ehh manusia maksudnya.

Sumber:https://www.infosumbar.net/budaya-dan-seni/20-permainan-generasi-90-an-di-sumatera-barat/


Share:

Permainan Main Kuciang-kuciang Tradisional Sumatera Barat



Ini sih permainan perempuan banget, biasanya anak-anak cewek sambil ngerumpi main ini, soalnya main nya gak terlalu butuh konsentrasi luar biasa. Hasil tanya sana tanya sini penulis, para generasi 90-an gak pada tau nama permainan nya, pasti semuanya pada bilang main kuciang-kuciang. Kamu pada tau gak nama permainan ini apa?

Main nya dengan 6 buah congklak atau kuciang-kuciang dan satu bola tenis/bekel. Bola di lempar dan ambil buah tadi, dengan beberapa rules sih tentunya.

Sumber:https://www.infosumbar.net/budaya-dan-seni/20-permainan-generasi-90-an-di-sumatera-barat/


Share:

Permainan Main Gambar Tradisional Sumatera Barat



Mainan gambar umbul jadul the killer. 50 kotak ukuran 30x20cm.Gunung Kelud kertas tebal..bukan karton seperti era tahun 80an.

Jujur saja ane sendiri tidak pernah tahu apa sebenarnya nama dari mainan ini, ada yang menyebutnya gambaran, gambar, umbul gambar atau poster. Masing-masing daerah ada mempunyai penyebutan yang berbeda-beda, tapi pada intinya jenis dan juga permainan yang bisa dilakukan hampir sama.

Gambaran terbuat dari kertas karton, agak tebal berbentuk segi empat kecil (mungkin sekitar 5x6 Cm), mempunyai gambar dan angka yang berbeda-beda, mungkin karena ada gambarnya maka banyak yang menyebutnya gambaran, ada berbagai macam karakter yang menjadi tema dalam gambar, biasanya adalah gambar dari kartun yang sedang terkenal pada masa itu atau dari bisa juga dari karakter tokoh dalam sebuah film yang juga terkenal pada waktu itu,

Bisa juga gambar tumbuhan atau apa saja yang menarik pada waktu itu, satu lembar kertas karton isinya sekitar 16, 24 atau 36 gambar (kalau tidak salah) dan tiap gambar dibatasi oleh garis, untuk bisa bermain dengan mainan ini gambar harus dipotong sesuai dengan garis tersebut, barulah bisa dimanfaatkan untuk berbagai jenis permainan.

Sumber:https://permainan-bocah.blogspot.com/2015/06/main-gambaran.html


Share:

Permainan Bongkar Pasang Tradisional Sumatera Barat



Bongkar Pasang Mainan Semi Tradisional Khas Anak Perempuan, pada zaman kecil saya dulu masih sering bahkan akran dengan teman perempuan sepermainan yang memainkan ini, karena saya cowok jadi saya kurang begitu tertarik dengan permainan ini, tapi dari yang saya lihat teman-teman yang memainkan ini begitu antusias. untuk saat ini anak-anak memang masih ada yang memainkan ini terutama di daerah pedesaan sedangkan untuk di kota kemungkinan sangat kecil Yang membedakan dengan sepuluh tahun yang lalu adalah tingkat usianya jika dulu anak usia ahir sd masih memainkan ini sedangkan untuk saat ini mungkin usia awal-awal sd saja karena semakin beranjak besar dikit sudah di lenakan dengan media seperti TV, HP dan lainya yang sebenarnya hal tersebut memberikan banyak dampak negatif ke anak.

Bongkar Pasang adalah gambar sosok dua dimensi yang dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan gambar pakaian dan asesorisnya. Boneka kertas ini muncul pertama kali di Paris pada abad 18, pada masa pemerintahan raja Louis XV. Awalnya berupa gambar artis yang sedang populer pada waktu itu. Diperuntukkan memang untuk permainan yang bisa dibongkar pasang alias tidak permanen. Dalam perkembangannya permainan ini menyebar dengan berbagai karakter seperti, bintang film, tokoh komik, dan yang paling populer sosok boneka barbie

demikianlah pembahasan saya tentang permainan bongkar pasang, meskipun permainan bukan permainan anak yang benar-benar tradisional setidaknya permainan ini lebih memberikan dampak yang positif untuk anak dari pada hanya di sibukan dengan bermain ps.

Sumber:http://permata-nusantara.blogspot.com/2012/06/bongkar-pasang-mainan-semi-tradisional.html


Share:

Permainan Main Kasti Tradisional Sumatera Barat



Olah raga kasti ini adalah olahraga masyarakat jawa, dimana masyarakat melakukannya pada waktu senggang atau waktu lowong, terutama oleh anak atau murid sekolah. Olahraga ini termasuk olahraga tradisional yang juga banyak diminati anak-anak remaja karena dalam permainan kasti meningkatkan ketangkasan dan kekompakan regu atau pemain. Sehingga melalui permainan kasti dapat menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama yang baik. Biasanya permainan bolakasti kebanyakan dilakukan pada waktu sore hari dan kegiatan bola kasti dapat dilakukan oleh siapapun.

Teknik Dasar Permainan Kasti

Sebelum melangkah ke dalam peraturan permainan terlebih dahulu harus menguasai teknik-teknik dasar permainan kasti, beberapa teknik dalam permainan bolakasti adalah sebagai berikut:
  • Melambungkan Bola
      Melambungkan bola perlu dikuasai oleh pemain karena teknik dasar ini salah satu yang menentukan dalam permainan, agar dapat melambungkan bola dengan baik tekniknya antara lain:
        Melambungkan Bola ke Atas langkah-langkahnya sebagai berikut:
      • Berdiri dengan salah satu kaki di depan (kaki kanan /kiri)
      • Pegang bola dengan tangan kanan, sejajar dengan dada
      • Bola berada pada pangkal jari-jari, tangan kanan membuat cekungan dan menghadap ke atas
      • Tangan kanan di depan dada dengan siku sedikit ditekuk dan tangan kiri didepan dada
      • Tarik tangan kanan ke bawah hingga di samping belakang lutut
      • Condongkan badan agak kedepan dan tekuklah kedua lutut
      • Ayunkan tangan keatas dengan siku lurus
      • Lepaskan bola disertai dengan lecutan telapak tangan kearah atas
    • Melambungkan Bola ke Depan
        Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
      • Berdiri dengan kaki kiri di depan
      • Tangan kanan memegang bola
      • Tangan kanan yang memegang bola lurus berada di samping paha
      • Posisi bola terletak pada pangkal jari-jari dan telapak tangan membuat cekungan
      • Selanjutnya tarik tangan kanan lurus kebelakang
      • Tekuk kedua lutut dan badan condong kedepan (badan tidak membungkuk)
      • Ayunkan tangan yang memegang bola kearah depan, langkahkan kaki kanan dan luruskan lutut kiri
    • Melempar Bola dari Atas Kepala
        Lemparan bola dari arah atas biasanya digunakan dari jarak yang jauh dari pemukul atau pemain yang berlari, langkah-langkah melempar bola ke pada pemukul antara lain:
      • Berdiri dalam sikap siap melempar
      • Posisi bola terletak pada pangkal jari-jari, ketiga jari-jari berada pada belakang bola, ibu jaridan jari kelingking berada di samping bola
      • Tariklah tangan kebelakang bersama dengan gerakan memutar kesamping dan langkahkankaki kiri kedepan
      • Badan condong kebelakang lalu ayunkan tangan yang memegang bola dari belakang danlemparkan dengan kaki kanan ikut maju
      • Menangkap Bola
    • Cara permainan
        Pemain pemukul berada di dalam garis atau tempat bebas, cara bermain antara lain:
      • Bola dilempar oleh salah seorang tim penjaga
      • bola tersebut dipukul oleh tim yang sedang memukul
      • Pemukul sesudah memukul harus cepat berlari ke daerah tiang pertolongan atau tiang hinggap
    • Aturan Permainan
        Sebelum bermain kasti, ada beberapa:
      • Gambar Lapangan Kasti
      • Pemain
      Kasti dimainkan oleh 2 regu tiap regu berjumlah 15 orang, 3 sebagai cadangan atau penggantidan 12 sebagai pemain inti. Regu yang main disebut partai pemukul regu yang jaga disebut partailapangan
    • Tiang Pertolongan Tiang pertolongan terbuat dari bahan yang tidak mudah patah, seperti besi, kayu, piber ataubambutiang pertolongan ditancapkan di tengah lingkaran dengan jari-jari 1 meter dan tinggi tiangpertolongan dari tanah ialah 1,5 meter, jarak tiang pertolongan dengan garis pemukul adalah 5meter dan jarak dari garis samping 5 meter
    • Tiang Hinggap atau Tiang Bebas Tiang hinggap dalam permainan kasti ada dua buah, yang ditancapkan dalam tanah lingkaranberjari-jari 1 meter. Kedua tiang tersebut di tancapkan dengan jarak 5 meter dari garis belakangdan 10 meter dari garis samping kanan dan kiri. Pemain yang sidah berada di tiang hinggap amandari incaran pemain penjaga yang memegang bola selagi pemain pemukul tidak berpinddah ketiang hinggap yang lainnya.
    • Nomor Dada Dalam permainan kasti setiap pemain harus memakai nomor dada yang terbuat dari kain,terpasamg didepan dada dan punggung. Nomor dada terdiri atas nomor 1-15, nomor urut 1-12untuk pemain inti dan untuk nomor 13-15 untuk pemain cadangan
    • Lama Permainan Lamanya permainan di tentukan dengan dua macam cara yaitu,a. Pertama ditentukan dengan waktuJika di tentukan dengan waktu maka lama permainan adalah 2 x 20 menit dengan istirahat 5menit atau 2 x 30 menit dengan istirahat 10 menit.b. Kedua dilakukan dengan inning.Inning ialah jumlah pergantian regu pemukul menjadi regu penjaga atau sebaliknya. Jikaditentukan dengan cara inning, jumlah inning dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan keduaregu atau panitia
    • Pukulan Benar Pukulan dinyatakan benar apabila:a. Bola setelah dipukul lewat garis pemukul dan jatuh atau mengenai benda yang berada didalamlapangan permainanb. Bola setelah di pukul melewati garis pemukul dan jatuh atau mengenai benda di luar lapangansetelah melewati bendera atau pembatas setengah lapangan permainan.
    • Pukulan Luput atau Tidak Kena (Luncas) Pukulan dinyatakan luncas (luput) apabila dalam usaha memukul kayu pemukul tidak mengenaibola yang dilambungkan oleh pelambung.
    • Pukulan Salah Pukulan salah apabila bola setelah di pukul tapi masih berada di areal pukul atau jatuh diarealpukul. Serta bola keluar lapangan sebelum melewati garis tengah.
    • Hak Memukul
        Hak bagi pemukul antara lain sebagai berikut:
      • setiap pemain dari regu pemukul memiliki hak memukul satu kali pukulan dalam satukesempatan
      • Pembebas (velouser) memiliki hak memukul sebanyak tiga kali, seorang pemukul dinyatakansebagai pembebas apabila ia satu-satunya pemain yang ada di ruang bebas
    • Lambungan Benar
        Lambungan dinyatakan benar apabila:
      • Bola dilambungkan sesuai dengan arah permintaan pemain pemukul
      • Bola melaju dalam ketinggian antara lutut dan kepala pemain pemukul
      • Bola melaju tanpa ada gerakan putaran yang di sengaja
    • Nilai a. Seorang pemukul yang benar pukulannya dapat kembali ke ruang bebas atas pukulannyasendiri nilai 2. Kejadian tersebut disebut RUN b. Seorang pemukul yang benar pukulannya dapat kembali ke ruang bebas atas bantuan pukulanteman nilai 1 c. Partai lapangan mendapat nilai satu apabila dapat menangkap bola pukulan lawan sebelumkena tanah d. Nilai 2 diberikan apabila seorang pemain dan regu pemukul dengan pukulannya sendiri danbenar dapat langsung kembali ke ruang bebas tanpa dimatikan lawan atau dinyatakan mati oleh wasit 13. Pemain Mati Seorang pemain dari regu pemukul dinyatakan mati apabila anggota tubuh selain kepala terkenalemparan bola dari regu penjaga selama perjalanan, dan pemain mati bila sengaja menerima boladengan kepala atas lemparan penjaga 14. Bola MatiBola mati adalah bola yang sudah tidak bisa dimainkan kembali di dalam permainan ataulapangan 15. Pergantian Partai atau Pergantian Tempat 16. Perwasitan Wasit berada di luar lapangan baik sebelah kanan maupun kiri. 17. Skoring Sit Skoringsit adalah pembantu wasit untuk jalannya suatu pertandingan E. Tujuan Bermain kasti bagi pendidikan Jasmani Adapun beberapa tujuan dari bermain kasti bagi pendidikan jasmani antara lain: Melestarikan budaya olahraga tradisional bangsa kita Dapat mengembangkan berbagai macam funsi tubuh Meningkatkan sikap sportivitas antar pemain atau teman Meningkatkan pengetahuan peraturan permainan Mengembangkan kemampuan penggunaan strategi dan teknik yang terlibat dalam aktivitasyang terorganisasi Dapat menjalin hubungan persahabatan dan kerjasama yang baik Belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain Memberikan saluran untuk mengekspresikan diri dan kreativitas Mengembangkan kemampuan penggunaan strategi dan teknik yang terlibat dalam aktivitassuatu permainan Mendapatkan olahraga yang murah meriah Sumber:https://gpswisataindonesia.info/2014/02/sejarah-permainan-tradisional-kasti/


Share:

Permainan Cak Bur (Galah Panjang) Tradisional Sumatera Barat



Deskripsi dan Cara Permainan:

Permainan Cak Bur ini juga dikenal dengan nama permainan galahpanjang. Permainan ini disebut Cak Bur karena pada saat permainan dimulai penjaga mengatakan “Cak” dan ketika permainan berakhir pemain mengatakan “Bur”. Pemainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak di daerah Sumatera Barat dan Riau. Namun permainan ini juga banyak dimainkan oleh orang dewasa. Permainan ini dimainkan oleh dua tim dalam suatu arena yang disebut gelanggang. Gelanggang ini dapat dibuat outdoor maupun indoor. Gelanggang ini terdiri atas kotak-kotak yang dibuat di tanah atau lantai dengan ukuran + 2x2 meter.

Namun ukuran gelanggang ini bisa disesuaikan dengan tempat permainan yang tersedia. Salah satu tim berperan sebagai penjaga gelanggang dan tim lainnya sebagai pemain. Jumlah anggota pada masing-masing tim harus sama. Jumlah kotak dalam gelanggang adalah jumlah pemain pada masing-masing tim dikurang satu. Tim penjaga bertugas menjaga gelanggang agar tim yang main tidak bisa melewati batas gelanggang dan masuk ke dalam gelanggang. Setiap orang dalam tim penjaga ini menjaga satu garis yang menjadi tanggung jawabnya dan dia tidak boleh keluar dari garis yang menjadi tempat jaganya. Sedangkan tim pemain bertugas melewati para penjaga untuk dapat melewati gelanggang dan kembali kedepan.

Cara memainkan :

Permainan dimulai dengan membuat gelanggang. Setelah membuat gelanggang permainan, dipilihlah ketua untuk masing-masing kelompok. Lalu masing-masing ketua akan mengundi kelompok mana yang akan menjadi penjaga dan mana yang menjadi pemain. Setelah itu, masing-masing kelompok menuju tempat masing-masing. Penjaga akan menuju gelanggang dan menjaga garis masing-masing. Ketua penjaga akan berada si garis tengah yang membagi gelanggang menjadi dua bagian dan bebas menjaga dari depan ke belakang. Kelompok pemain menuju bagian depan gelanggang dan bersiap-siap memasuki gelanggang yang dijaga tadi. Setelah itu, semua penjaga merentangkan tangannya dan penjaga garis paling depan mengatakan “CAK” dan dimulailah permainan. Pemain berusaha melewati setiap kotak dalam gelanggang dan sampai pada bagian paling akhir dan kembali lagi ke depan tempat permainan dimulai. Sedangkan penjaga berusaha menjaga agar pemain tidak melewati garis yang digajanya. Pemain tidak boleh tersentuh oleh penjaga. Jika pemain tersentuh olah penjaga maka posisi akan bertukar, pemain manjadi penjaga, dan penjaga menjadi pemain. Kemenangan akan dicapai apabila pemain bisa melewati seluruh gelanggang dan dapat kembali ke depan. Ketika pemain berhasil melewati pemain yang menjaga garis depan untuk kembali maka dia mengucapkan “BUR” yang menandakan bahwa kelompoknya telah menang.

Analisis permainan Cak Bur (Galah Panjang)

Permainan tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, selain aturan yang sudah umum digunakan, pemain bisa menambahkan aturan yang baru yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif dalam menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini berlaku pada permainan Cak Bur (Galah Panjang) dimana ukuran gelanggang yang digunakan dalam permainan bisa disesuaikan dengan tempat permainan yang tersedia dan jumlah gelanggang bisa disesuaikan dengan jumlah pemain. Selain itu, permainan cakbur menuntut anak untuk membangun strategi dalam menghadapi tim lawannya dan berusaha untuk menipu tim lawan agar mereka tidak tertangkap oleh tim penjaga. Oleh karena itu, dapat dikatakan permainan Cak Bur ini memiliki manfaat dari aspek kognisi.

Dilihat dari aspek fisik, Cak Bur dapat mengembangkan kecerdasan kinestetik anak karena dalam permainan ini terdapat gerakan motorik (berlari). Anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan atau mengelabuhi lawan. Selain itu, Cak Bur juga mengembangkan kecerdasan spasial anak karena permainan ini mendorong anak untuk mengenal konsep ruang yaitu saat menjaga gelanggang.

Permainan Cak Bur juga bisa mengembangkan kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial karena permainan ini dilakukan secara berkelompok. Dengan berkelompok, anak akan mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain, merasa nyaman dan terbiasa berada dalam kelompok serta mengajarkan kebersamaan. Permainan Cak Bur bisa digunakan sebagai terapi pada anak karena saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak (berlari). Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukan kondisi tersebut.

Jika dilihat dari tahapan perkembangan bermain, permainan Cak Bur termasuk ke dalam Cooperative Play (Bermain bersama) yang ditandai dengan adanya kerja sama atau pembagian tugas dan pembagian peran antara anak-anak yang terlibat dalam permainan untuk mencapai satu tujuan tertentu (Tedjasaputra, 2001). Dalam permainan ini, ada pembagian tugas seperti ada yang menjadi ketua kelompok, ada yang menjadi penjaga gelanggang 1, gelanggang 2 dan seterusnya.

Kelemahan dari permainan ini adalah adanya resiko untuk terjatuh dan mengalami cidera. Oleh karena itu, pemain harus berhati-hati dalam melakukan permainan ini dan memilih area bermain yang aman seperti dengan lebih memilih area tanah yang berumput dibandingkan lantai (terbuat dari semen) karena tekstur lantai lebih keras.

Sumber:http://za-yulisman.blogspot.com/2011/05/analisis-permainan-tradisional.html


Share:

Permainan Caktum Tradisional Sumatera Barat



Permainan ini di lakukan hampir mirip dengan pak tekong, tapi beda media. Bedanya dengan pak tekong, di beberapa daerah ada yang gak kenal permainan ini, dan beberapa daerah lainnya juga ada yang hanya kenal pak tekong, bahkan ada yang tidak kenal keduanya, karena menggunakan media yang berbeda.

Permainan ini dimainkan dengan melempar sendal ke 3 balok kayu/ tangkai ranting yang di berdiri. Dan sama kayak pak tekong rule nya, setelah ranting roboh langsung cari tempat persembunyian.

Sumber:https://www.infosumbar.net/budaya-dan-seni/20-permainan-generasi-90-an-di-sumatera-barat/


Share:

Permainan Pak Tekong Tradisional Sumatera Barat



Permainan ini adalah salah satu permainan anak yang umum dimainkan ketika saya masih kecil. Untuk memulai permainan, hanya dibutuhkan sebuah bola plastik dan juga batu bata ataupun kapur untuk membuat lingkaran. Idealnya, permainan ini dilakukan antara 5 sampai 10 orang. Permainan ini cukup sederhana tapi seru bahkan terhitung sebagai salah satu permainan yang cukup menguras tenaga.

Dapat dimainkan baik oleh anak perempuan maupun laki-laki atau juga keduanya. Ketika saya kecil, permainan ini selalu dimainkan dalam kelompok yang cukup besar antara 10-12 orang dan berisi laki-laki dan perempuan. Permainan dapat dilakukan di areal perumahan atau juga di lapangan, yang penting ada tempat untuk sembunyi. Beberapa pembelajaran dan/atau manfaat dari permainan ini adalah meningkatkan aktivitas fisik atau sebagai salah satu kegiatan olah raga, atur strategi, setia kawan, dan juga kelincahan.

    Teknis permainan:
  • Membuat lingkaran dengan batu bata atau kapur (atau penanda lainnya) di tempat yang disepakati (misal di tengah area bermain).
  • Menentukan batasan area permainan, bila tidak akan menyulitkan penjaga.
  • Hompimpah untuk menentukan penjaga. Yang kalah akan menjadi penjaga.
  • Meletakkan bola di dalam lingkaran. Salah satu dari anak yang akan bersembunyi harus menendang bola. Usahakan ia menendang cukup jauh sehingga menyulitkan penjaga mengambil bola.
  • Saat bola ditendang keluar lingkaran, maka penjaga harus mengejar bola tersebut dan mengambilnya kembali untuk diletakkan di dalam lingkaran. Bersamaan dengan penjaga yang mengejar bola, pemain lainnya harus berlari dan segera mencari tempat sembunyi.

    -PENJAGA TIDAK DIPERBOLEHKAN MELIHAT KE BELAKANG SAAT MENGAMBIL BOLA. -

  • Penjaga harus meletakkan bola kembali ke dalam lingkaran dan bergegas mencari pemain lain yang bersembunyi. Selagi mencari, penjaga harus memperhatikan bola agar tidak ditendang oleh pemain yang muncul tiba-tiba.

    - PENJAGA TIDAK DIPERBOLEHKAN MEMBAWA BOLA SAAT MENCARI PEMAIN YANG BERSEMBUNYI -

  • Bila menemukan pemain lain, penjaga harus berlari kembali ke bola. Penjaga harus menyebutkan nama sambil kemudian menyentuh bola. Begitu seterusnya untuk pemain yang ditemukan.

    - Pemain pertama yang disebutkan atau ditemukan oleh penjaga akan menjadi calon penjaga berikutnya BILA TIDAK DISELAMATKAN OLEH PEMAIN LAIN. -

  • Pemain lain yang belum ditemukan dapat menyelamatkan teman yang pertama disebutkan dengan cara berlari ke arah bola dan menendang bola ke luar lingkaran. Bila bola berhasil ditendang ke luar lingkaran, maka permainan kembali dimulai dari awal. Penjaga kembali mengejar bola dan semua pemain baik yang sudah ditemukan maupun belum lainnya DAPAT BERSEMBUNYI KEMBALI.
  • Apabila tidak ada penyelamat, maka setelah pemain ditemukan semua, permainan akan dimulai kembali dengan penjaga baru yakni orang pertama yang telah berhasil ditemukan oleh penjaga sebelumnya.

    Sumber:https://budaya-indonesia.org/Pak-Tepong-atau-Sepak-Tepong


  • Share:

    Permainan Mancik-mancik Tradisional Sumatera Barat



    Kali ini gue mau bercerita tentang salah satu jenis permainan waktu kecil. Tumbuh di era 90an, jangan bayangkan gue dan teman-teman seperti bocah sekarang yang udah nenteng gadget atau ke warnet. Bocah era 90an sangat akrab dengan lapangan dan lingkungan mereka buat bermain.

    Salah satu permainan yang biasa gue mainkan bareng teman-teman dulu bernama "cik mancik" atau lebih umum dikenal dengan petak umpet. Dari segi nama, sebenarnya rada absurd, sebab "cik mancik" sendiri berarti cik (kotoran) dan mancik (tikus). Entah siapa pencetus nama ini.

    Aturan Main

    Aturan mainnya simple aja, seperti petak umpet kebanyakan. Satu pemain yang menjadi "pencari" musti nyari teman-temannya yang sembunyi. Buat nentuin siapa yang jadi pencari dilakukan lewat hompimpah. Udah tau kan caranya hompimpah? "Hompimpah alaium gambreng!".

    Selanjutnya si pencari (kami nyebutnya 'yang jadi', kalau daerah lain biasanya 'yang jaga') menghitung kelipatan 10 sambil nutupin matanya pada sebuah bookmark (bisa berupa tiang, pondasi pagar, pohon) sementara yang lain ngacir nyari persembunyian mereka.

    Buat nentuin kelipatan hitungan, dilakukan dengan cara nyentuh kepala belakang 'yang jadi' tadi dengan satu jari salah seorang teman. Nah, dia musti nebak jari yang mana. Satu kesalahan bernilai 10.

    Jika bisa nemuin temannya, tugasnya nggak langsung selesai, dia masih harus adu cepat dengan temannya itu buat nyentuh bookmark. Yang jadi pas nyentuh bookmark: nyebutin nama teman, yang ngejar: bilang cik mancik. Jadi bakal ada adegan kejar-kejaran.

    Kalo pemain lain yang berhasil nyentuh bookmark duluan walau dia ketahuan (menang kejar-kejaran), maka posisinya aman diputaran berikutnya. Kalo yang ketangkep lebih dari dua, maka 'yang jadi' ditentuin pake hompimpah, kalo dua ditentukan dengan suit, satu otomatis dia langsung jadi.



    Keseruan

    Nah, kenangan akan serunya permainan ini jelas jadi yang tak terlupakan. Teknik kamuflase kami dulu kalau diingat lucu-lucu. Memanjat atap, pohon, tiang, masuk selokan, jadi batu, jadi ninja, jadi jemuran, jadi ban serap atau jadi rumput yang bergoyang. Hahahaha!!

    Kadang buat sembunyi kami harus masuk teras rumah orang diam-diam, kalo beruntung, kami ketahuan ama yang punya rumah lalu diusir dan langsung ketangkep. Tapi seingat gue, jarang sekali kami diusir. Rasanya, orang dulu baik-baik semua.

    Keseruan lainnya pas adegan kejar-kejaran. Kadang, jika yang jadi ini dikenal lambat, yang lain nggak usah repot sembunyi, cukup tunggu di balik tembok. Esensi permainan pun berubah dari sembunyi dan cari, jadi sembunyi dan lari.

    Banyak lagi kelucuan lain yang kalau diingat bikin gue senyum-senyum sendiri, contohnya pas gue sembunyi di pohon cabe, tapi nggak kelihatan ama teman yang jadi. Atau ada juga seorang teman yang sempat-sempatnya pulang untuk makan.

    Gue akan terus ingat dan semoga teman-teman masa kecil gue juga masih mengingatnya. Dimana pun mereka kini, cuma mau bilang "masa kecil kita bahagia, kawan".

    Sumber:https://ricologi.blogspot.com/2015/06/permainan-masa-kecil-bag-1-cik-mancik.html


    Share:

    Jenis Permainan Tradisional



    asyik ya kalo masa kecil tuh dihabisin buat senang-senang dengan mainan, gk kayak anak jaman skarang udah lupa sama yang namanya mainan tradisional... ya biasalah, kan namanya jaman modern otomatis mainannya pake getjet-getjet keren, kayak main Pe es ato main game di Pisi...

    beda jaman gue dulu, gak ada mainan yang keren2 kayak jaman skarang, palingan dulu cuman ada gimbot, itu pun mainannya gk seru, serunya main diluar rumah sama temen2, adek2, kadang uda2 juga ada yang ikut main...

    nah,,, kali ini gue mau coba kasih tau apa aja yang pernah gue mainin waktu kecil dulu, kira2 umur 5 sampe 12 tahunan lah... tapi ntar kalo ada salah2 tolong kasih tau yang bener yah... nih mainan gue jaman dulu. :
    Share:

    Permainan Badia Batuang / Meriam Bambu Tradisional Sumatera Barat



    Di bulan suci ramadhan identik dengan kembang api dan petasan. Namun di bulan ramadhan ada yang lebih spesifik dari kembang api, yaitu Meriam Bambu.

    Meriam-meriam bambu ini biasa dimainkan dikampung-kampung untuk meramaikan suasana dan kegiatan menunggu waktu datangnya berbuka puasa. Di Solok Selatan ( Solsel) meriam bambu ini di sebut “ Badia-badia Batuang”.

    Badia-badia batuang ini terbuat dari bambu yang memiliki diameter lebih besar dari bambu sejenis lainnya dan dengan panjang bambu sekitar 3 meter yang di lubangi pada sekat-sekat ruasnya sehingga menjadi mirip pipa, namun pada bagian pangkal ruasnya tidak dilubangi, dipertahankan karena nantinya dipergunakan untuk menampung minyak tanah, dan pada bagian atasnya dibuat lubang kecil untuk mengisi minyak dan memasukkan sumbu api.

    Permainan badia-badia batuang ini terbilang memiliki resiko rendah. Resiko yang sering diakibatkan adalah terbakarnya bulu alis atau bagian muka yang lain karena kena uap panas saat meniup lubang sumbu.



    Namun juga menjadi lebih perhatian jika permainan ini sudah melibatkan benda benda yang di pasang pada bagian moncongnya. Seringnya yang dipasang adalah kaleng kaleng bekas. Kaleng kaleng ini akan terlempar saat badia-badia batuang disulut dan meledak. Terlebih jika ditambahkan karbit sebagai bahan ledaknya, dan sudah dapat dipastikan maka efek ledakan akan sangat kuat sehingga menimbulkan suara ledakan yang semakin keras dan itu akan menambah suasana riuh gembira.

    Namun sayangnya di masa sekarang, permainan ini sudah jarang sekali ditemukan, anak-anak tak tampak lagi kebersamaanya dalam memainkan permainan ini. Entahlah, berharap permainan ini tetap lestari dan dimainkan.

    Sumber:http://porosriau.com/SOLSEL/Mengenang-Badia-badia-Batuang---Permainan-Rakyat-yang-Sudah-Mulai-Terlupakan


    Share:

    Permainan Pacu Upiah Tradisional Sumatera Barat



    Diera zaman teknologi yang berkembang saat ini, anak zaman sekarang banyak menghabiskan waktu dengan gadgetnya, sehingga lupa untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan yang ada disekitar mereka.

    Namun, tidak di Kota Solok, salah satu permainan tradisional yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak Nagari seusai panen sawah. Dimana, permainan itu sampai saat ini masih dimainkan yang dikenal dengan nama ‘Pacu Upiah’.

    Permainan Pacu Upiah merupakan salah satu permainan tradisional yang sudah jarang sekali ditemui, apalagi disaat perkembangan zaman teknologi yang pesat seperti sekarang ini. Hal ini pun mulai mengkhawatirkan untuk permainan anak-anak tradisional yang semakin tergerus oleh waktu.

    Anak zaman sekarang banyak menghabiskan waktu dengan gadget atau dengan mendatangi lokasi yang menyediakan permainan online yang terkoneksi dengan internet.
    Sehingga, mereka sudah lupa memainkan permainan tradisional yang sarat dengan kepedulian sosial terhadap lingkungan dimana tempat mereka berada.
    Pacu Upiah sendiri adalah permainan yang dimainkan oleh dua orang anak atau lebih. Karena, permainan ini tidak bisa dimainkan sendiri, maka harus berkelompok.
    Permainan ini banyak mengandung nilai-nilai filosofi, seperti gotong-royong dan sikap tolong menolong. Di Kota Solok sendiri, permainan Pacu Upiah dimainkan pasca panen padi.
    Upiah merupakan lembaran dari pelepah pohon pinang yang sudah tua yang nantinya menjadi sebagai alat yang dipergunakan dalam kompetisi ini.

    Dimana, salah seorang anak nantinya duduk diatas pelepah daun Upiah, sembari berpegangan dan kemudian salah seorang temannya akan menarik daun Upiah tersebut sembari berlari menuju tempat yang nantinya disepakati sebagai tempat akhir tujuan dari permainan tersebut.

    Permainan ini dilakukan secara bergantian, sampai semua anak mendapat giliran untuk duduk diatas lembaran daun pinang tersebut. Semoga saja permainan tradisional yang lain tidak saja Pacu Upiah sanggup bertahan dari pengaruh negatif dari kemajuan teknologi.

    Alhasil, perlu adanya pengawasan dari orang tua dan lingkungan sekitar akan pentingnya interaksi sosial dengan yang ada disekitar kita sehingga bisa menumbuhkan rasa kepedulian dengan sesama.

    Sumber:https://www.kabarsumbar.com/berita/pacu-upiah-permainan-tradisional-yang-mulai-pudar-di-sumatera-barat/


    Share:

    Permainan Karapan Sapi Tradisional Jawa Timur



    Bagi masyarakat Madura, karapan sapi bukan sekadar sebuah pesta rakyat yang perayaannya digelar setiap tahun. Karapan sapi juga bukan hanya sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan yang akan mengangkat martabat di masyarakat.Sejarah asal mula Kerapan Sapi tidak ada yang tahu persis, namun berdasarkan sumber lisan yang diwariskan secara turun temurun diketahui bahwa Kerapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep pada abad 13.Awalnya ingin memanfaatkan tenaga sapi sebagai pengolah sawah.

    Berangkat dari ketekunan bagaimana cara membajak sapinya bekerja ,mengolah tanah persawahan, ternyata berhasil dan tanah tandus pun berubah menjadi tanah subur.Melihat gagasan bagus dan membawa hasil positif, tentu saja warga masyarakat desa mengikuti jejak Pangerannya. Akhirnya tanah di seluruh Pulau Sapudi yang semula gersang, menjadi tanah subur yang bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah dan jadilah daerah yang subur makmur.

    Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Ketandur mempunyai inisiatif mengajak warga di desanya untuk mengadakan balapan sapi. Areal tanah sawah yang sudah dipanen dimanfaatkan untuk areal balapan sapi. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur itulah yang hingga kini terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Hanya namanya diganti lebih populer dengan �Kerapan Sapi�.

    Bagi masyarakat Madura, Kerapan Sapi selain sebagai tradisi juga sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Kerapan sebagai pesta rakyat di Madura mempunyai peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi (kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan), peran magis religius (misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu), bidang seni rupa (ada pada peralatan yang mempunyai hiasan tertentu), bidang seni tari dan seni musik saronen (selalu berubah dan berkembang).

    Sumber:http://forum.detik.com/karapan-sapi-tradisi-pesta-dan-prestise-rakyat-madura-t896816.html?df8833new


    Share:

    Permainan Pathol Tradisional Jawa Timur



    Pathol adalah olahraga gulat tradisional yang berasal dari Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Konon permainan Pathol telah ada sejak jaman Majapahit, yang awalnya merupakan acara sayembara untuk mencari kesatria terbaik yang bisa menjaga pelabuhan Tuban yang pada waktu itu ramai oleh perompak dan penyamun.

    Gerakan-gerakan pathol kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh pemuda dan masyarakat setempat hingga akhirnya tumbuh menjadi olahraga yang digemari dan bahkan dijadikan kesenian tradisional. Gulat pathol yang umumnya digelar di pesisir pantai ini sering diselenggarakan setiap menjelang purnama atau pada hari-hari khusus misalnya bertepatan dengan upacara sedekah laut.

    Sumber:https://budaya-indonesia.org/Permainan-Pathol


    Share:

    Permainan Nekeran Tradisional Jawa Timur



    Sebuah benda yang terbuat dari semacam kaca, berbentuk bulat dan memiliki diameter yang tidak besar dan kecil, nekeran juga dikenal dengan kelereng biasanya benda-benda ini di kenal dengan permainan Nekeran. Permainan ini menjadi permainan favorit anak laki-laki dan menjadi permainan tradisional Jawa Timur.

      >Ciri Permainan
  • Permainan ini dimainkan oleh dua atau lebih. Sehingga bila di mainkan secara individu maka permainan ini tidak akan berjalan dengan semestinya.
  • Semakin banyak pemain akan semakin seru untuk bermain permainan yang satu ini.
  • Sekarang sudah jarang ditemukan anak-anak yang bermain permainan ini, karena dahulu saja setiap permainan ada musimnya dan waktunya.
  • Dalam permainan ini di mainkan secara ramai-ramai. Di sini lah canda tawa anak-anak akan terdengar sebab senangnya mereka dalam melakukan permainan ini.
  • Pihak yang memiliki Nekeran terbanyak adalah pemenangnya

    Sumber:https://budayajawa.id/permainan-tradisional-jawa-timur-nekeran/


  • Share:

    Permainan Lompat Tali Tradisional Jawa Tengah



    Pada permainan ini tidak banyak yang bisa saya ceritakan, karena dikampung kami memang sedikit sekali anak laki-laki yang ikut bermain pada permainan ini, namun akan saya coba mengingat-ngingat sedikit semoga tidak ada kekeliruan dalam cerita yang akan saya sharing malam ini, hanya saja mungkin ada sedikit perbedaan untuk setiap daerahnya. Sesuai namanya lompat tali karet, bahan yang dijadikan untuk permainan ini adalah karet gelang yang sudah kaitkan atau saling dipintal hingga berbentuk tali yang panjang, biasanya dimainkan oleh 3 orang peserta, peserta pertama berperan sebagai pelompat, sedangkan 2 orang lagi betugas sebagai pengayun/pemegang tali karet tersebut.

    Pada tahap pertama permainan, peserta melakukan aksi loncat-loncat mengiringi ayunan tali karet tersebut sambil menyanyikan lagu “timun busuk dibalik tiang ayam berkokok tandanya sudah diang” jujur saja kami semua pun tak tahu dari mana asal muasal permainan dan lagu yang dinyanyikan tersebut, semenjak kami kecil permainan ini sudah populer, dan tak pernah ada seorang anak pun mempertanyakan tentang hal tersebut, yang kami tahu permainan ini bukan hanya menyenangkan, seru dan membuat masa kecil kami bahagia, tetapi juga melatih fisik,mental dan konsentrasi penuh. Karena setelah tahap loncat tadi lolos, maka tahap selanjutnya adalah melakukan aksi lompat yang berkala, mulai dari tingkat terendah yaitu selutut pemegang tali karet, kemudian setinggi dada, jika lolos ketinggian akan bertambah setinggi daun telinga, kemudian setinggi kepala dan yang terakhir sejengkal diatas kepala pemegang tali karet.

    Namun jarang sekali hal ini dapat dilakukan dalam satu kali putaran, karena untuk melakukan lompatan yang semakin tinggi ini butuh daya fisik yang kuat, dan sanggup mengacuhkan ocehan-ocehan anak-anak yang menonton atau menunggu giliran main yang sering kali mengganggu konsentrasi sipemain terlebih ketika melakukan aksi lompatan ini. syarat untuk bisa lolos dari setiap tahapnya adalah kaki tidak boleh menyentuh tali karet saat melakukan lompatan.

    Sahabat steemit, inilah yang mampu saya ceritakan pada permainan tali karet yang pernah populer diakalangan anak perempuan di tahun 80-90an itu, dan mungkin sampai saat ini masih ada anak-anak yang mengisi waktu main mereka dengan permainan ini di beberapa daerah di Indonesia.

    Sumber:https://steemit.com/indonesia/@saini88/permainan-tradisional-lompat-tali-karet


    Share:

    Permainan Cublak-Cublak Suweng Tradisional Jawa Tengah



    Cublak-Cublak Suweng, Tebak Orangnya atau Kelilingi Lapangannya

    Kalau orang Amerika punya truth or dare, orang Jawa punya cublak-cublak suweng. Sama-sama sebuah permainan yang mengharuskan pesertanya melakukan hal lain jika tak mampu melakukan satu hal yang diharuskan, namun cublak-cublak suweng melibatkan lebih banyak pemain sehingga tak heran bila permainannya lebih seru. Ejekan ringan dan derai tawa pun mengalir, membuat suasana menjadi ramai.

    Bagaimana cara mainnya? nah disini akan menguraikannya untuk anda yang sudah lupa atau ingin belajar memainkannya. Pertama, kumpulkan dulu rekan-rekan anda sebanyak-banyaknya. Agar permainan lebih seru, minimal perlu ada lima orang. Kemudian, siapkan benda tertentu, biasanya berupa kerikil, sebagai benda yang nanti akan disembunyikan oleh anda atau salah satu rekan anda yang ikut bermain.

    Nah, sesudahnya, hom pim pa dan ping sut dahulu untuk menentukan siapa yang akan menjadi orang yang harus menebak pemegang kerikil. Orang yang harus menebak adalah orang yang kalah dalam ping sut dan ia harus duduk menungging dengan kepala mencium lantai dan mata ditutup. Sementara, peserta lain menengadahkan telapak tangan di punggung orang yang harus menebak. Satu peserta kemudian bertugas memegang kerikil atau benda lain yang akan disembunyikan.

    Permainan kemudian dimulai dengan menyentuhkan kerikil ke setiap telapak tangan peserta lain. Sepanjang permainan, peserta mendendangkan lagu cublak-cublak suweng. Syairnya, “cublak-cublak suweng, suwenge teng-gelenter, mambu ketundung gudel, pa empo lera lere, sopo ngguyu ndeliake”. Setelah sampai pada kata ndelikake, kerikil harus digenggam oleh peserta yang tangannya terakhir kali disentuh.

    Setelah kerikil digenggam, orang yang harus menebak bangun dan duduk bersimpuh. Sementara peserta lain menyanyikan lagu, “sir, sir pong ndelik gopong” sebanyak mungkin hingga orang yang harus menebak menentukan siapa yang menyembunyikan kerikil. Sambil menyanyi, telunjuk tangan digoyangkan dan diarahkan ke orang yang harus menebak. Dia hanya diberikan kesempatan satu kali. Bila tak berhasil, dia akan menjadi orang yang harus menebak pada permainan berikutnya.

    Kalau anda menjadi orang yang harus menebak, anda mesti hati-hati agar tidak gagal menebak untuk yang kedua kalinya. Kalau sampai gagal, bisa-bisa anda diminta mengelilingi lapangan atau bangsal tempat bermain dengan lari jongkok. Atau, kadang diminta memenuhi permintaan yang aneh-aneh dari peserta lain. Tak enak bukan? Maka, anda mesti mempunyai trik agar dapat menebak dengan benar.

    Cara-cara fair bisa diandalkan untuk modal menebak bila anda peka. Misalnya, dengan membaca bahasa tubuh peserta yang ikut bermain. Wajah peserta yang menyembunyikan kerikil mungkin akan terlihat berbeda. Bisa pula dengan melihat tangan setiap peserta, siapa tahu akan tertebak penyembunyi kerikilnya. Selain itu, anda juga bisa menghapalkan letak duduk peserta sebelum menutup mata dan kemudian merasakan perputaran kerikil yang disentuhkan pada setiap telapak tangan peserta.

    Jika mau agak curang, ada juga tipsnya. Anda bisa sedikit memiringkan kepala ke arah kiri atau kanan. Kemudian, bukalah sedikit mata anda sehingga tampak seperti mata ayam yang sedang tidur, pasti dapat melihat peserta yang menyembunyikan kerikilnya. Tapi jangan sampai ketahuan oleh peserta lain. Kalau ketahuan, bisa-bisa anda mendapat tambahan hukuman yang semakin menyusahkan.

    Ah, menang atau kalah dan cara apapun yang digunakan untuk menang dalam permainan ini sebenarnya tak begitu penting. Yang penting kegembiraan di waktu senggang selagi pulang berwisata dari beberapa objek di Yogyakarta. Bukankah kegembiraan seperti ketika bermain cublak-cublak suweng sudah jarang didapatkan saat ini?

    Sumber:https://cuilicious.wordpress.com/2010/05/30/cublak-cublak-suweng/


    Share:

    Permainan Jamuran Tradisional Jawa Tengah



    Jamuran itu mainan yang bergandengan tangan terus bikin lingkaran besar , pada muter-muter sama nyanyi
    Jamuran ya ge ge thok Jamu apa ya ge ge thok Jamur gajih mberjijih sak ara-ara Semprat-semprit Jamur apa Nah nanti terus berhenti , terus pura-pura jadi bentuk lain
    Tiba pada kalimat ‘siro badhe jamur opo?’, si anak yang berada di tengah lingkaran lantas berteriak menyebut sebuah gerakan pura-pura yang wajib kami perbuat. Anak-anak lain yang semula bergandengan tangan membentuk lingkaran, kontan berhamburan. Untuk menirukan seperti apa yang di ucapkan si anak yang kalah tadi. Misal seperti ini…

    ‘jamur montor!’


    Saat di ucapkan ‘jamur montor!’, anak-anak yang berhamburan untuk berubah menjadi berbagai kendaraan beroda. Ada yang menjadi mobil polisi. Ada yang menjadi dokar. Ada yang menjadi sepeda motor. Ada yang menjadi kereta. Masing-masing kami bergumam menirukan suara tiap-tiapnya sembari berjalan mondar-mandir. Hingga terdengar lagi sebuah suara.

    ‘jamur patung!’


    Lantas anak-anak bergegas menjadi patung. Diam tak bergerak. Tidak boleh tersenyum. Tidak boleh tertawa. Meski digoda. Meski diajak berbicara.
    Bagi anak yang tertawa, tersenyum, atau yang bergerak akan terkena hukuman yaitu ia harus menggantikan posisi anak yang kalah tadi.
    Bila sudah ada yang terkena, kami lantas bermain lagi dari mula. Bila sudah ada terhukum, kami yang terbebas bisa lega tersenyum.
    Yang kena hukuman, masuk ke dalam lingkaran. Yang lainnya, bergandengan tangan melingkar dan mulai menembang. Jamuran… jamuran… yo ge ge thok…
    Tiba pada kalimat ‘siro badhe jamur opo?’ (intinya permainan dimulai seperti awal tadi).

    ‘jamur monyet!’

    Anak-anak segera melepas tautan tangan. Semua berhamburan. Macam-macam gerakannya. Ada yang dengan segera memanjat pohon. Ada yang hanya menggaruk-garuk kepala. Ada yang sesekali meloncat-loncat. Ada yang seketika duduk dan berpura-pura seperti sedang mencari kutu pada kepala temannya.

    Anak-anak pun banyak yang tertawa terpingkal karenanya.

    ‘jamur let uwong!’


    Anak yang membentuk lingkaran bubar lalu mencari pasangan untuk diajak bergandengan. Yang tidak mendapat pasangan, harus ‘jadi’ atau mendapat hukuman berdiri di tengah lingkaran.

    ‘jamur kendil borot!’


    Anak-anak mencari tempat yang agak tersembunyi untuk buang hajat kecil, karena kendilnya borot (pancinya bocor). Kendil yang tidak bocor dianggap tidak berguna. Walhasil anak yang tidak buang hajat kecil dianggap sebagai kendil tidak bocor dan harus ‘jadi’. Kadang, pada jamur kendil borot dijumpai sedikit kecurangan karena membawa air dalam plastik dan hanya berpura-pura buang hajat kecil. Atau ‘sedikit’ bohong dengan mengaku sudah buang hajat kecil saat anak yang ‘jadi’ sedang memeriksa kebocoran anak lain. Pemeriksaan Kendil borot hanya dilakukan dengan melihat bekas air.

    ‘jamur gagak!’


    Anak-anak berlari sambil merentangkan tangan, menirukan kepakan sayap burung gagak sambil menirukan bunyinya gaok gaok. Tugas anak yang ‘jadi’ adalah menangkap ‘burung gagak’. Dan kawanan burung gagak harus menghindarinya agar jangan mendapat hukuman. Cara menghindari pengejaran mudah saja yaitu dengan berjongkok sebagai pengibaratan burung yang sedang hinggap. Jika mendapati anak jongkok, maka pengejaran dihentikan. Atau jika mau, menunggu agar anak yang berjongkok itu lari lagi lalu dikejar. Jika ada anak yang tertangkap ketika masih berlari, maka berlakulah hukuman.

    ‘jamur parut!’


    Anak-anak yang membentuk lingkaran bubar menjauhi anak yang berada di tengah. Mereka mencari tempat untuk berdiri dengan berpegangan tangan pada sebatang pohon tiang, atau bersandar pada tembok lalu menggantung sebelah kakinya. Telapak kaki harus nampak agar mudah digelitik.

    Anak yang tadi berdiri di tengah lalu menghampiri salah seorang anak yang menggantungkan kakinya sebelah, lalu menggelitik telapak kakinya yang digantung. Anak yang digaruk harus menahan diri agar jangan sampai tertawa, agar tidak mendapat hukuman.

    Untuk memancing agar anak yang digaruk tertawa, anak yang menggaruk boleh menggodanya dengan memperlihatkan gerak-gerik yang lucu atau menggodanya dengan kata-kata yang jenaka. Jika cara-cara demikian tidak dapat membuat anak itu tertawa, maka ia menghampiri anak-anak yang lain dan diperlakukan demikian pula. Jika anak lain tetap tidak tertawa maka hukuman tetap pada dirinya, mengulangi berdiri di tengah-tengah lingkaran.
    Demikian permainan itu dilangsungkan dan diulang-ulang berkali-kali dari permulaan, dan setiap kali disebutkan nama jamur yang berlainan oleh anak yang ‘jadi’.

    Sumber:https://mainantradisionalindonesia.wordpress.com/2014/05/13/permainan-jawa-jamuran/


    Share:

    Definition List

    Unordered List








    Support

    Calendar Widget by CalendarLabs